ZNEWS.ID SERANG – Diperkirakan 75 persen bangunan sekolah di Indonesia berdiri di daerah berisiko bencana. Sekitar 523.633 satuan pendidikan dan lebih dari 60 juta peserta didik akan merasakan dampak jika bencana terjadi.

Data ini dihimpun oleh Kemedikbud dan Kemenang per-Oktober 2019 yang diolah dengan data Kajian Risiko 2015. Demikian disampaikan Kasubdit Mitigasi BNPB, Mohd Robi Amri, dalam Konferensi Nasional Pendidikan Bencana III 2019 di Serang, Banten.

“Sekitar sepuluh ribu sekolah dengan rincian lebih dari sepuluh juta siswa sudah terdampak. Menyadari kondisi ini penting dibangun kerjasama dari berbagai lini untuk menyelenggarakan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Apalagi negeri kita dikategorikan sebagai  negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi,” papar Robi.

Selain mengurangi dampak bencana, lanjutnya, terhadap lingkungan dan layanan pendidikan, investasi pendidikan kebencanaan perlu dilakukan untuk  penting dilakukan agar menjaga keberlangsungan pendidikan saat masa darurat dan pemulihan bencana. Juga membangun karakter budaya pendidik yang sadar dan antisipatif terhadap potensi bencana.

Konferensi Nasional Pendidikan Bencana III kembali digelar pada  4-5 November 2019 di Grand Krakatau Hotel, Serang, dengan tema “Pendidikan Bencana Sebagai Investasi Negara yang Berbudaya Sadar Bencana”.

Staf Pengurangan Risiko Bencana (PRB) DMC Dompet Dhuafa,  M. Syaiban mengatakan, sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa turut berpartisipasi dengan menjadi fasilitator dan menggelar stan pameran kebencanaan.

“Saya berkesempatan untuk menjadi fasilitator di Forum Anak dengan tema Identifikasi Aksi PRB (Pengurangan Risiko Bencana) di Banten Oleh Anak. Kalau untuk stan pameran, karena acaranya mengundang anak usia SD kita membawa selebaran mitigasi dan tas siaga. Tadi beberapa anak sudah memadati stan kita minta dijelaskan soal langkah mitigasi yang tertera di poster dan isi tas siaga,” ungkapnya, Senin (4/11).

Konferensi Nasional Pendidikan Bencana merupakan pertemuan rutin yang semula bernama Konferensi Nasional Sekolah Aman Bencana. Pertemuan ini mempertemukan dan memperkuat komitmen para pihak dalam Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana dan Kesiapsiagaan Bencana (PRBK) pada semua tingkatan dan jenis pendidikan. Diikuti oleh pemerintah, masyarakat, organsisasi, LSM dalam negeri, LSM internasional, sekolah, perguruan tinggi, dan kelompok belajar masyarakat.

Kegiatan hari kedua konferensi  di Serang dibagi ke dalam dua agenda yakni Forum Konsultasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan Konsultasi Anak. Beberapa perwakilan guru dan siswa di sekolah sekitar Provinsi Banten dihadirkan untuk menjadi peserta dalam konferensi. Selain itu dihadiri pula oleh beberapa lembaga kemanusiaan yang bergelut di bidang kebencanaan beserta dengan dinas pendidikan daerah.

“Acara ini penting sekali mengingat data yang ditunjukkan oleh Bank Dunia mengindikasikan sekitar 76% sekolah di Indonesia berada di daerah rawan gempa. Sekitar 60 juta lebih peserta didik akan terdampak. Maka dari itu, warga sekolah perlu dibangun kesadaran bahkan perlu dijadikan budaya berbasis PRB,” terang Syaiban.

DMC Dompet Dhuafa selama ini telah melakukan sosialisasi dan simulasi PRB di sekolah-sekolah rawan bencana. Beberapa sekolah binaan PRB DMC Dompet Dhuafa yakni Sekolah Alsyukro (TK-SMP) di Ciputat, Tangerang Selatan, serta SDN 1 dan SDN 2 di Srumbug, Magelang.

“Sudah banyak juga sekolah-sekolah yang kita sosialisasikan mengenai PRB. Alhamdulillah juga sudah terapkan tiga pilar pendekatan SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana ) yang komprehensif. Mencakup fasilitas sekolah aman, manajemen bencana di sekolah dan pendidikan pencegahan dan PRB,” tutur Syaiban.

Pentingnya peran anak

Menurut Syaiban, peran anak dalam upaya pengurangan risiko bencana (PRB) penting dilakukan. Sebab pembelajaran PRB yang dilakukan sejak dini merupakan langkah efektif untuk membudayakan prilaku sadar bencana di masyarakat.

“Kalau anak sudah terbiasa mendengar istilah PRB dan sudah tanggap hal ini tentu akan meminimalisir risiko bencana pada anak. Selain itu ada kemungkinan mereka bisa membawa perilaku sadar bencana ini ke keluarga dan lingkungan masyarakat,” ujar Syaiban pada Forum Anak di kegiatan Konferensi Nasional Pendidikan Bencana III, Selasa (5/1).

Saat penyampaian materi, para peserta anak yang terdiri dari perwakilan siswa dari beberapa sekolah di wilayah Provinsi Banten diberi waktu untuk diskusi kelompok. Setelah itu mereka diminta untuk memaparkan hasil diskusinya. Syaiban bilang metode ini dilakukan untuk mendorong anak berfikir dan menggali hal yang sudah mereka ketahui.

Materi dilanjutkan dengan pemaparan mengenai tindakan preventif yang harus dilakukan untuk meminamilisasi dampak bencana dan langkah-langkah yang harus dilakukan jika bencana terjadi. Seperti pengadaan tas siaga yang berisi makanan kering dan minuman, alat komunikasi, uang, dokumen penting, selimut, alat mandi, peluit dan lainnya.

“Untuk di sekolah bisa dilakukan juga simulasi bencana secara berkala, pembuatan jalur evakuasi dari kelas menuju tempat pengungsian, hingga membuat kesepakatan dengan keluarga di rumah perihal titik bertemu jika bencana terjadi,” jelas Syaiban. (DMC/dnb)

LEAVE A REPLY