
Di era digitalisasi saat ini, peran dai menjadi sangat strategis dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Ahmad Shonhaji selaku Direktur Layanan Sosial Dakwah Budaya Dompet Dhuafa menuturkan, dakwah juga sudah harus masuk pada peran dakwah digital.
“Teman-teman, para dai, seperti yang dilakukan Dompet Dhuafa adalah melakukan shifting dengan masuk pada era digitalisasi. Termasuk juga pola dakwah kita juga harus masuk pada pola era digital,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ahmad Shonhaji menambahkan bahwa kekuatan digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan personal branding para dai. Pendekatan-pendekatan digital dan pengoptimalisasian media sosial, bisa menembus kelompok-kelompok milenial.
Selain itu, konten-konten dakwah juga harus disesuaikan dengan kadar kemampuan dan kebutuhan masyarakat, karena dai sangat fleksibel.

Bergabung bersama Dai Cordofa Dompet Dhuafa, tentu berdasarkan pola-pola yang dilakukan Dompet Dhuafa dalam menjawab persoalan-persoalan keumatan. Di mana seorang dai menjadi sosok sentra, memberikan layanan kepada masyarakat, memberdayakan kaum dhuafa dan masyarakat, serta diharapkan dapat membantu menyuarakan aspirasi-aspirasi kebutuhan masyarakat.
Selaras dengan hal tersebut, Rahmad Riyadi selaku Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika memaparkan keynote speech. Dalam speech-nya, Rahmad mengatakan bahwa dai perlu membekali diri, harus konkret, tidak hanya bekal dakwah, tapi juga ilmu yang lain.
“Oleh karena itu, kita ingin bahwa dalam melakukan pekerjaan, terutama dai pemberdaya dan dai mualaf ini, kita mengikuti visi dan misi Dompet Dhuafa, yaitu ada beberapa hal yang perlu kita harus bawahi, kita ini membebaskan. Hari ini bagaimana kita bisa membawa misi dakwah kita ini rahmatan lil ‘alamin dan bisa mencerahkan umat, sehingga fenomena yang ada di masyarakat ini bisa kita atasi bersama, baik itu fenomena kesulitan maupun pergerakan,” tutur Rahmad.





























