Ilustrasi. (Foto: Unsplash.com/Green Cameleon)

Oleh: dr Dito Anurogo MSc (Dokter Rakyat di Kampus Desa Indonesia, dokter literasi digital, penulis puluhan buku berlisensi BNSP, pendidik di FKIK Unismuh Makassar, kandidat PhD di IPCTRM School of Medicine Taipei Medical University Taiwan)

ZNEWS.ID JAKARTA – Hari buku sedunia diperingati setiap 23 April. Buku bermula dari ide yang dituliskan secara sistematis dan logis lalu didiseminasikan kepada publik. Tanpa ide, mustahil ada buku.

Pada mulanya adalah ide. Tulisan ada karena ide. Teknologi berasal dari ide. Mahakarya dimulai dari ide. Peradaban juga dibangun dari ide.

Pertanyaannya, ide bagaimana yang berpotensi membangun peradaban? Tentunya konstelasi ide-ide dahsyat yang dilaksanakan secara berkesinambungan.

Ide besar bermula dari hal-hal kecil nan sederhana. Boleh jadi didapatkan dari fenomena dan peristiwa di kehidupan serta dinamika yang terjadi di alam semesta. Keduanya memang guru sejati bagi manusia. Tentunya, peran Allah tak boleh dilupakan.

Ide juga dapat ditemukan saat berdiskusi, bertukar pandangan, bersilaturahmi, berpetualang alam, membaca (dalam makna luas), bercengkerama (bersama keluarga, sahabat, serta orang-orang tercinta), maupun saat berkontemplasi dan bersolilokui.

Semua kegiatan ini berpotensi menstimulasi ide. Nah, setelah muncul pelbagai ide, bagaimana selanjutnya? Langkah terbaik tentu saja segera mencatat. Sebab, ide bersifat unik. Ide tak pernah mau berkompromi dengan momentum atau tempat. Ia dapat muncul dan menghilang begitu saja.

Perumpamaan ide ibarat cahaya. Yang bermula dari cahaya akan menuntun manusia kepada sang Cahaya. Untuk memilikinya, manusia perlu mendekatkan diri dengan sumber cahaya, Allah.

LEAVE A REPLY