
ZNEWS.ID JAKARTA – Ketua Umum Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) sekaligus epidemiolog Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ridwan Amiruddin, mengatakan bahwa sejumlah kesalahan yang disadarai atau tidak saat orang dengan Corona melakukan isolasi mandiri jadi penyebab munculnya kluster keluarga dan transmisi di komunitas.
Seiring bertambahnya kasus Corona beberapa waktu terakhir, proporsi orang yang melakukan isolasi mandiri menjadi sekitar 35-40 persen.
“Ada beberapa kebocoran memang diisolasi mandiri, sehingga terbentuk kluster keluarga, transmisi di komunitas, pergerakan populasi di tempat-tempat umum sebenarnya menjadi pemicu kasus naik,” kata Ridwan dalam webinar yang digelar Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, dilansir dari Antara, Minggu (7/2/2021).
Isolasi mandiri dilakukan dengan memisahkan si sakit agar dia tidak menjadi sumber penularan. Selama isolasi mandiri, pasien perlu berada di dalam rumah atau ruangan selama 14 hari. Namun, harus memeriksakan diri ke klinik atau rumah sakit jika gejala memburuk.
Tetapi, pada kenyataannya pasien masih keliru mengenai hal ini, salah satunya tidak berdiam di rumah atau ruangan selama 14 hari. Dia tetap berinteraksi sosial secara langsung dengan anggota keluarga lain sehingga dia menjadi sumber penularan bagi keluarganya atau tetangga.
“Semakin tinggi tingkat pertemuan seperti makan bersama maka tingkat penularan makin tinggi. Apabila mobilitas penduduk naik satu persen maka kasus Covid-19 bisa naik 8-15 persen,” tutur Ridwan.
Masalahnya, selain pasien tidak disiplin, kurangnya pengawasan dari petugas puskesmas atau layanan medis menyebabkan kebocoran dalam pelaksanaan isolasi mandiri.



























