Ilustrasi berpuasa. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Bulan suci Ramadan kali ini berbeda dari biasanya. Karena, saat ini dunia tengah didera pandemi Corona. Hal ini mendorong masyarakat untuk melakukan penyesuaian agar terhindar dan tidak terkena virus tersebut.

World Health Organization (WHO) sendiri sudah mengeluarkan surat edaran terkait pelaksanaan ibadah puasa yang aman selama pandemi Corona pada (15/4/2020) lalu. Berikut beberapa isiannya:

  • Jaga jarak (physical distancing) secara ketat setidaknya 1 meter atau tiga kaki dengan orang-orang di sekitar kita setiap saat.
  • Gunakan salam yang disetujui secara budaya dan agama yang menghindari kontak fisik, seperti melambaikan tangan, mengangguk atau meletakkan tangan di atas dada sebelah kiri.
  • Tidak berkumpul di tempat-tempat yang terkait dengan kegiatan Ramadan, seperti tempat hiburan, pasar, dan toko.
  • Desak orang yang merasa tidak sehat atau memiliki gejala Corona untuk tidak menghadiri acara. Selain itu, disarankan untuk mengikuti panduan nasional tentang tindak lanjut dan pengelolaan kasus simptomatik.
  • Desak orang tua atau siapa saja yang memiliki riwayat medis seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis atau kanker, untuk tidak menghadiri pertemuan. Kelompok tersebut rentan terhadap penyakit parah dan kematian akibat Corona.
  • Lengkapi fasilitas sanitasi dengan sabun dan air yang memadai.

Selanjutnya, persoalan lain datang dari kegiatan puasa itu sendiri. Ketua Tim Cekal Corona Dompet Dhuafa, dr Yeni Purnamasari MKM, memberikan catatan penting tentang hal ini.

Puasa, kata Yeni, sebenarnya memindahkan waktu pola makan. Jika biasanya orang harus makan selama tiga kali sehari dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Namun, dengan berpuasa, seseorang akan sahur (biasanya jam 03:00), dan menahan makan dan minum selama 12 jam. Alias, baru boleh makan pada pukul 18:00 (tepatnya setelah azan Magrib berkumandang).

Untuk tetap fit selama berpuasa, ada sejumlah catatan dari Yeni, yang juga GM Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa, agar umat muslim dapat menjalankannya dengan baik dan sehat. Berikut catatannya:

Asupan Gizi Seimbang

Ilustrasi. (Foto: crossfittype44.com)

Ada empat pilar yang harus diperhatikan mengenai gizi seimbang; pertama, konsumsi makanan yang beragam dengan konsep Isi Piringku, satu piring makan setidaknya memuat aneka makanan, yakni karbohidrat (2/3 dari setengah piring), lauk-pauk(1/3 dari setengah piring), buah-bahan (1/3 dari setengah piring), kemudian sayuran (2/3 dari setengah piring).

Kedua, biasakan perilaku hidup bersih. Salah satunya rajin mencuci tangan. Karena, dengan rajin mencuci tangan akan mengurangi risiko terserang penyakit.

Ketiga, melakukan aktivitas fisik. Minimal dalam sehari lakukan kegiatan fisik, entah itu berjalan ringan atau olahraga berat selama 30 menit.

Keempat, pantau dan pertahankan berat badan normal. Dengan mempertahankan berat badan, seseorang mampu mencegah dirinya dari penyakit tidak menular.

Salah satu indikator yang menunjukkan bahwa telah terjadi keseimbangan gizi di dalam tubuh adalah memiliki berat badan yang normal dalam Indeks Masa Tubuh (IMT).

“Baik sahur dan berbuka idealnya penuhi asupan diri dengan gizi seimbang. Namun, dengan catatan, untuk berbuka dianjurkan satu jam setelah azan baru boleh mengonsumsi makan-makanan berat. Tujuannya untuk mengondisikan dan membiasakan dahulu (agar tidak kaget: red) kondisi perut yang telah lama kosong,” kata Yeni, melalui pesan singkat, Jumat (8/5/2020).

Hindari Konsumsi Minuman Diuretik

Kopi. (Foto: pexels/Toni Cuenca)

Puasa mendorong seseorang untuk menjaga cairan tubuh selama beraktivitas. Namun, jika mengonsumsi minuman sejenis teh dan kopi, terutama pada saat sahur, dikhawatirkan akan membuat seseorang menjadi kekurangan cairan. Akibat efek dari minuman tersebut yang bersifat diuretik.

“Selain itu, ketika sahur, alangkah baiknya hindari konsumsi minuman bersifat diuretik. Efek diuretik ini memicu untuk pengeluaran urin. Jika ini dikonsumsi, maka pengeluaran urin akan menjadi lebih sering. Sehingga, dikhawatirkan dapat menyebabkan dehidrasi,” ujarnya.

Hindari Gula yang Berlebihan

Ketika berbuka puasa sebaiknya diawali dengan yang manis seperti kurma. Karena kurma memiliki kandungan gula fruktosa. Fruktosa sendiri adalah gula sederhana yang berbeda dengan kandungan gula dalam makanan lain yang harus diuraikan terlebih dahulu sebelum diserap tubuh.

Fruktosa bisa dengan cepat dan langsung diserap oleh organ pencernaan, untuk kemudian dikirim ke seluruh tubuh. Namun, untuk gula seperti glukosa sangat tidak dianjurkan. Karena kalau berlebihan akan menurunkan tingkat imunitas tubuh. Jika imunitas melemah, maka akan mudah terserang virus.

“Dalam Islam, kita dianjurkan untuk berbuka dengan yang manis. Kata yang manis merujuk kepada fruktosa seperti kandungan kurma, bukan glukosa,” kata Yeni.

Glukosa memang dibutuhkan tapi fruktosa yang cepat diserap tubuh. Sehingga, kondisi kita yang sedang lemah atau kadar nutrisi yang kurang, bisa cepat pulih kembali.

“Jadi, langsung diserap kemudian mengoksigenasi ke otak kita. Gula pasir atau sirup yang terlalu manis itu tidak dianjurkan,” ujarnya.

Niat yang Kuat

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Dengan mempunyai niat yang kuat, itu nantinya tubuh akan beradaptasi. Jadi, salah satu komponen kuat dan penting dalam berpuasa ialah terletak di bagian otak. Ketika otak diberi sugesti atau niat yang kuat untuk berpuasa, maka itu akan meredam stimulan-stimulan rasa lapar dan haus.

Sehingga, tidak menyebabkan tubuh kelelahan karena menahan rasa lapar. Terutama jika orang tersebut memiliki penyakit maag. Semakin kuat sinyal rasa lapar maka semakin banyak asam lambung yang diproduksi. Jadi, semakin penting sekiranya untuk memiliki niat yang kuat.

Istirahat yang Cukup

Tidur yang cukup juga seringkali diabaikan. Padahal, ini juga merupakan salah satu hal yang krusial dalam menjaga tubuh tetap fit menunaikan puasa, sambil menjaga kesehatan agar tidak mudah terserang Corona. Biasakan tidur semalam itu 8 sampai 9 jam.

Kelola Stres

Di tengah kondisi krisis pandemi seperti ini, sangat wajar apabila orang merasa panik. Bahkan tidak sedikit mengalami depresi atau stres. Namun, tidak semua orang bisa mengatur dengan baik emosinya.

Jika pengelolaan diri sulit dilakukan, alangkah baiknya untuk mencari ahli dalam hal ini. Bisa ke psikiater atau ke layanan-layanan yang disediakan secara gratis.

Karena, semakin sulit mengelola depresi atau stres, maka semakin besar pula pengaruhnya pada aktivitas puasa. Semakin depresi, maka sulit menahan diri melawan nafsu. Pada akhirnya, juga akan memberikan efek destruktif kepada diri, seperti imunitas melemah dan mudah terserang penyakit.

ilustrasi pasien Corona. (Foto: Shutterstock)

Yeni juga menjelaskan bahwa ada catatan khusus bagi yang memiliki berkah sakit. Puasa memang dianjurkan oleh umat Islam. Namun, dengan catatan bahwa mereka yang ingin melakukannya harus sehat.

Jika mereka memiliki penyakit tertentu, mereka harus merujuk diri ke dokter. Kemudian, dilakukan diagnosis. Baru setelah itu diputuskan apakah boleh melakukan puasa atau tidak. Seperti ibu hamil (bumil), misalnya.

Bumil yang di atas trimester pertama biasanya relatif stabil. Jadi, tidak ada gejala hiperemensif atau mual muntah berlebihan. Kalaupun ada gejala ini, artinya ia akan kekurangan cairan. Berpuasa hanya akan memperburuk kondisinya.

Kalau trimester pertama tidak ada gangguan itu silakan berpuasa. Namun, tetap dilihat perkembangan ke depannya. Apakah berat janinnya mengalami penurunan atau tidak. Dari hasil diagnosis itu, baru dokter boleh menganjurkan berpuasa atau tidak.

Hal sama juga berlaku bagi mereka yang positif Corona. WHO sendiri menganjurkan untuk berkonsultasi dahulu kepada dokter dan ahli agama yang kompeten dalam menjelaskan itu.

Karena, tidak dimungkiri, orang yang sedang dalam terserang penyakit, mereka butuh perhatian ekstra dalam merawat diri. Jika dokter dan ahli agama melihat tidak memungkinkan seorang pasien Corona menjalankan puasa, maka mereka sangat tidak dianjurkan untuk melakukan hal itu.

Walaupun banyak yang melihat puasa merupakan salah satu cara untuk meningkatkan imunitas tubuh. Namun, puasa bukanlah satu-satunya cara untuk meningkatkan imun tubuh.

Artinya, semua kembali lagi dari hasil diagnosis yang ada. Maka, bagi yang memiliki catatan khusus, perlu ada konsultasi pada sang ahli, untuk mendapatkan anjuran berpuasa atau tidak.

Oleh: Fajar
Editor: Agus wahyudi

LEAVE A REPLY