Ilustrasi: Petani Ronting berhasil panen 2 ton bawang merah melalui program DD Farm di kawasan pemberdayaan terpadu Dompet Dhuafa di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Bawang merah merupakan komoditas sayuran bernilai strategis karena tingginya penggunaannya di kehidupan sehari-hari. Budi daya bawang merah dihadapkan dengan berbagai masalah, baik biotik maupun abiotik yang diperparah dengan adanya perubahan iklim global.

Dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim ini berpotensi besar menurunkan produksi pertanian. Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim pada budi daya bawang merah perlu dilakukan, salah satunya dengan menyiapkan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim menggunakan bioteknologi.

“Perakitan varietas unggul yang dilakukan melalui proses pemuliaan tanaman, bukan hanya dengan pendekatan pemuliaan yang konvensional tetapi juga dengan aplikasi bioteknologi modern. Untuk itu dalam meningkatkan keragaman genetik material pemuliaan bisa dilakukan dengan berbagai teknik, misalnya dengan aplikasi kultur jaringan dan pendekatan lain seperti mutasi in vitro dan genome editing,” ujar Puji Lestari, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Selaras dengan Puji, Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Dwinita Wikan Utami, mengatakan bahwa bawang merah selalu menjadi salah satu komoditas utama baik sebagai tanaman sayuran atau sebagai tanaman obat.

“Bawang merah merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi nasional yang signifikan. Beberapa penugasan di Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan di antaranya adalah perakitan varietas unggul bawang merah, yang memiliki ketahanan baik terhadap cekaman biotik, abiotik dan memiliki produksi yang tinggi. Beberapa pendekatan telah dilakukan baik itu pemuliaan berbasis konvensional ataupun pemuliaan dengan aspek genetik,” ungkapnya.

Ragapadmi Purnamaningsih, Peneliti Ahli Utama PRHP BRIN, menjelaskan tentang sifat-sifat bawang merah. Bawang merah, kata dia, tidak menyukai curah hujan yang tinggi, terutama pada masa menjelang panen. Bawang merah juga mempunyai akar serabut, sistem perakaran dangkal, tidak tahan kekeringan.

“Berbagai kendala terhadap kondisi tersebut berpengaruh terhadap produktivitas bawang merah,” katanya.

LEAVE A REPLY