Berkat kebaikan Donatur Dompet Dhuafa, Elsa bisa melanjutkan mimpinya, tunggakan yang masih tersisa berhasil ditebus oleh Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM), Jumat (19/1/2024), lewat Program Tebus Ijazah. (Foto: LPM DD)

Kenyataan hidup itu dilakoninya setiap hari. Dengan penuh perjuangan, ia tetap menggeluti pekerjaannya meski bayarannya hanya Rp50.000 per hari.

“Itu digaji per hari Rp50.000, full masuk kerja. Karena kalau kita nggak masuk, berarti nggak dibayar dan nggak ada sistem libur,” ucap Elsa.

Lebih lanjut, Elsa menyampaikan bahwa dari kerja freelance-nya itu, ia coba mencicil sedikit demi sedikit untuk melunasi SPP. Namun, tetap tidak terbayarkan, karena hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Paling seperti buat ngumpulin uang nggak bisa dalam jumlah banyak. Karena dari Rp50.000 itu cukup sehari saja. Karena menunggak SPP juga, dari SPP belum bisa bayar. Kemarin itu sambil kerja, sambil nyicil dikit-dikit, tapi masih ada sisa tunggakan Rp1,9 juta,” ujarnya.

Di samping itu, Elsa merupakan anak kedua Sri Wahyuni. Ia tinggal bersama dengan ibu dan adiknya yang masih balita.

Sang ibu yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) juga merasa bingung harus berbuat apa. Sebab, untuk kebutuhan keluarga, ia hanya bisa mengharapkan dari sang anak, kakak dari Elsa yang telah menikah.

“Alhamdulillah, saya ikut senang, bisa tebus ijazah. Karena belum ada ijazah jadi banyak nggak diterima (kerja). Untuk sehari-hari saya dari anak aja, kakaknya Elsa. Terima kasih Dompet Dhuafa, harapannya ke depannya bisa bantu yang lain, yang juga membutuhkan,” kata Sri Wahyuni penuh senyum.

LEAVE A REPLY