
Binatang akan memakan binatang lain yang lebih lemah. Binatang jantan akan menyingkirkan, bahkan membunuh, pesaingnya sekedar untuk bisa membuahi betina yang diinginkannya. Dia mungkin akan berbagi makanan, tapi hanya untuk gerombolannya.
Standar kemuliaan binatang ditentukan pada kehebatan memangsa binatang lain di mana puncak piramida kemuliaan adalah siapa yang cakar dan taringnya paling mematikan.
Kebinatangan inilah yang harus kita bersihkan dari dalam diri kita. Sekali diri manusia dipenuhi dengan sifat-sifat kebinatangan, hidupnya akan diabdikan untuk memburu dan membunuh siapa saja.
Dalam sejarah panjang agama, di mana ekspresi terbenderangnya adalah berbagai praktik peribadatan, tidak jarang justru terjebak dalam perangkap nafsu dan perilaku kebinatangan.
Karena Tuhan digambarkan sebagai Zat yang Mahaperkasa, yang bisa melakukan apa saja kepada manusia, peribadatan manusia kepada Tuhan bisa terperosok ke dalam mengorbankan manusia untuk Tuhan.
Altar-altar persembahan dipenuhi dengan aliran darah dan persembahan daging untuk Tuhan. Yang hilang dari gambaran Tuhan ini adalah sifat rahman dan rahim-Nya.
Dalam Islam, Allah sejak awal memproklamasikan dirinya sebagai Dzat Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Kita diminta Allah terus melafalkan dua sifat-Nya melalui bacaan bismillahi al-rahman al-rahim di setiap perilaku kita.
Perintah menyembelih binatang kurban adalah manifestasi dari ajaran kasih sayang ini. Cermin hati kita tidak bisa menangkap sifat rahman dan rahim Allah jika masih diburamkan oleh berbagai nafsu kebinatangan.





























