
Oleh: Salsabil Priladiya Rafida
ZNEWS.ID JAKARTA – Di tengah gempuran milenial yang menjunjung kerja singkat namun hasil memikat, prinsip Pareto akrab menjadi energi utamanya. Secara singkat, prinsip tersebut menjelaskan bahwa 80% hasil didapatkan dengan 20% usaha, bukan sebaliknya.
Inilah mengapa generasi rebahan lebih memilih jalur instan dibandingkan jalur berbukit. Namun sayang, kerap kita jumpai untuk menuju suatu destinasi wisata yang indah atau nama bekennya ‘hidden gem’, diperlukan lebih banyak tanjakan, jalan terjal, hingga harus menanggalkan kendaraannya lalu menempuh perjalanan kaki berkilomerter.
Impian adalah roda penggerak hari-hari kita, sedang hari ini adalah kumpulan hari-hari yang telah dilalui. Selayaknya mimpi yang tak pernah padam, usaha ialah kobaran pembuktian kita.
Jika orang tua kita mengobarkannya dengan kerja keras, maka anak muda zaman now mengobarkannya dengan kerja cerdas. Bukan keras atau cerdasnya yang utama, namun kerjanya yang perlu kita fokuskan.
Ketika kita fokus pada hasil, maka manusia cenderung ingin menikmati kisah bahagianya saja. Ia lupa bahwa seseorang telah melalui kerasnya tantangan untuk dapat terbang setinggi itu. Jangan hanya menikmati hasilnya, namun juga susah payah dalam perjalanannya.
Esensi hasil lebih utama dibanding proses tentu bukan hanya karena faktor internal. Masukan referensi turut andil dalam persepsi seseorang atas apa yang sedang ia usahakan.
Teringat kita pada ranah takdir, di mana zona main manusia hanyalah seputar usaha. Bagaimana bisa kita lebih sering bermain di zona hasil? Padahal, hasil bukanlah milik kita.





























