Ilustrasi bahaya toxic masculinity di lingkungan kerja . (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Toxic masculinity atau maskulinitas beracun, anggapan mengenai perilaku laki-laki yang terbentuk oleh masyarakat atau sosial, menghambat operasional perusahaan, dan harus dibenahi.

“Toxic masculinity ini merupakan anggapan yang salah kaprah tentang bagaimana seorang laki-laki harus bersikap. Seperti misalnya anggapan di masyarakat bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Tentu anggapan tradisional maskulinitas seperti ini bisa mendorong perilaku negatif di tempat kerja,” ujar Direktur Eksekutif, Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Maya Juwita, dalam siaran resmi, dikutip dari Antara.

Dampak dari toxic masculinity adalah adopsi perilaku negatif pada laki-laki yang berbahaya bagi perempuan, masyarakat, maupun laki-laki itu sendiri.

Bentuk adopsi perilaku negatif ini bisa berupa tampilan dominasi yang tidak diinginkan, pengambilan risiko yang tidak bertanggung jawab dan kebencian terhadap perempuan. Lebih lagi, perilaku bias yang negatif ini bisa tertanam dalam bawah sadarnya.

Chief Human Resources Officer FWD Insurance Indonesia, Rudy Manik, menambahkan bahwa tantangannya adalah terkadang laki-laki terperangkap dalam situasi di mana mereka harus memenuhi tuntutan yang harus dicapai. Sehingga, menimbulkan perilaku toxic masculinity.

Oleh karena itu, menurutnya, untuk mengubah budaya organisasi agar lebih setara harus datang dari pimpinan perusahaan.

“Kita tentukan dahulu perilaku apa yang harus ditampilkan, baik pada saat berinteraksi, berkompetisi, dan penyampaian target kinerja, dan itu semua dimulai dari atas,” tuturnya.

LEAVE A REPLY