Ilustrasi lansia tidur. (Foto: oversixty.com.au)

ZNEWS.ID JAKARTA – Dokter spesialis kesehatan jiwa lulusan Universitas Indonesia, dr Anastasia Ratnawati Biromo SpKJ, mengatakan bahwa gangguan tidur pada lansia dapat menyebabkan risiko depresi hingga bunuh diri.

Meskipun gangguan atau perubahan waktu tidur pada lansia merupakan hal yang wajar, Anastasia mengingatkan apabila lansia mengalami keluhan seperti ketidakpuasan kuantitas atau kualitas tidur, kesulitan mempertahankan tidur, terbangun dini hari dan sulit tidur kembali, tidak bisa melakukan tugas di siang hari dan terjadi setidaknya tiga malam per minggu selama tiga bulan, maka perlu dikhawatirkan.

“Dampak insomnia pada lansia ini menimbulkan risiko depresi meningkat 23 persen, peningkatan risiko bunuh diri, peningkatan risiko hipertensi, infark miokardial, dan stroke, peningkatan risiko diabetes dan gangguan metabolik lainnya, peningkatan prevalensi kanker, insomnia kronik menyebabkan meningkatnya risiko terjadinya gangguan kognitif,” ujar Anastasia dalam webinar dikutip dari Antara, Rabu (22/9/2021).

Dia juga menjelaskan mengenai hubungan gangguan tidur dan depresi pada lansia. Kekurangan tidur, kata Anastasia, dapat menyebabkan peningkatan sitokin inflamasi. Hal yang sama juga didapatkan pada individu dengan gangguan depresi.

Selain itu, gangguan regulasi neutransmiter monoamin yang terdiri dari serotonin, norepinefrin dan dopamin berkontribusi terhadap abnormalitas tidur REM (Rapid Eye Movement) dan juga berperan dalam terjadinya depresi.

“Gangguan tidur dan faktor lingkungan menyebabkan ekspresi abnormal gen yang mengatur irama sirkandian menyebabkan timbulnya gangguan mood atau episode depresi,” kata dokter yang berpraktik di RS. PGI Cikini ini.

Lebih lanjut, Anastasia menjelaskan bahwa gejala depresi pada lansia dan orang muda berbeda. Terkadang, gejala yang muncul bertumpang tindih dengan gejala fisik atau gangguan daya pikir.

LEAVE A REPLY