Ilustrasi. (Foto: Pexels.com/Pixabay)

Oleh: Kangen Drivama WM Jumardi (PM Bakti Nusa 9 Padang)

ZNEWS.ID JAKARTA – Krisis paruh hidup atau dikenal dengan istilah quater life crisis adalah suatu fase hidup (usia 20-30 tahun). Pada fase ini, seseorang akan merasa di persimpangan jalan yang membuatnya dilema dalam menentukan arah karena dihadapkan dengan berbagai tuntutan.

Hal ini menyebabkan sering kali individu bersangkutan merasa tertekan dan stres dengan berbagai pilihan yang memiliki konsekuensi tersendiri seperti dari bangku perguruan tinggi menuju masyarakat, mencari pekerjaan, melanjutkan studi, atau rencana lainnya.

Kondisi ini pada akhirnya membuat banyak penulis menjelaskan saran untuk menghadapi tekanan dan stres yang semakin hari semakin tinggi, salah satunya Mark Manson.

Dalam buku international best seller berjudul Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (terjemahan indonesia), Mark Manson menjelaskan bagaimana seni untuk mengabaikan tekanan dan tuntutan dewasa ini. Berdasarkan uraiannya, Manson berpandangan bahwa hidup terkadang memang menyebalkan.

Banyak keinginan yang tidak tercapai, seperti kita bukanlah seorang yang populer di kampus, belum memiliki pasangan, tidak terlalu kaya, dan lainnya. “Namun, apa yang salah dengan itu?” “Bukankah hal tersebut tidak memengaruhi apapun?” Maksud Manson, kita tentu masih tetap bisa berkarya dan hidup seperti biasa.

Perasaan inferior yang didapat dari tekanan tren media sosial atau masyarakat sering kali membuat kita menciptakan parameter palsu di mana hidup bahagia adalah seperti hidup orang lain. .eskipun pada faktanya, hidup orang lain tidak sesempurna yang kita kira.

Oleh karena itu, menurut Manson, “Peduli amat dengan semua hal-hal keren versi masyarakat?”.“Kita sejatinya dapat hidup dengan parameter dan kebahagiaan kita sendiri”.“Jadi, masa bodo sajalah!”

LEAVE A REPLY