
ZNEWS.ID, JAKARTA – Sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas tewas saat polisi menindak pelaku aksi protes dengan menggunakan peluru tajam pada hari paling berdarah dalam beberapa minggu demonstrasi menentang kudeta militer di Myanmar.
Seperti dilansir ChannelNewsAsia.com, Senin (1/3/2021), petugas penyelamat mengatakan bahwa tiga pria ditembak mati di kota Dawei Selatan, sementara dua remaja lainnya tewas di Kota Bago. Orang keenam tewas di Yangon, kata seorang anggota parlemen dari pemerintah sipil yang digulingkan Myanmar dalam sebuah posting Facebook.
Myanmar telah berada dalam kekacauan sejak tentara merebut kekuasaan dan menahan pemimpin pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi dan sebagian besar pemimpin partai pada 1 Februari. Tentara menuduh telah terjadi kecurangan dalam pemilihan umum pada November tahun lalu yang membuat partai NLD menang telak.
Kudeta, yang menghentikan langkah peralihan menuju demokrasi setelah hampir 50 tahun pemerintahan militer, telah menarik ratusan ribu orang ke jalan dan kecaman dari negara-negara Barat.
“Myanmar seperti medan perang,” kata kardinal Katolik pertama negara mayoritas Buddha itu, Charles Maung Bo, di Twitter.
Polisi keluar lebih awal dan melepaskan tembakan di berbagai bagian kota terbesar Yangon setelah granat kejut, gas air mata dan tembakan di udara gagal memecah kerumunan. Tentara juga turut memperkuat polisi.
Beberapa orang yang terluka diangkut oleh sesama pengunjuk rasa, meninggalkan noda darah di trotoar, menurut laporan media lokal. Sedangkan seorang pria meninggal setelah dibawa ke rumah sakit dengan peluru di dadanya, kata seorang dokter yang meminta untuk tidak disebutkan namanya seperti dikutip ChannelNewsAsia.com.



























