
ZNEWS.ID JAKARTA – Rasulullah Muhammad salallahu’alaihi wassalam bersabda, “Carilah ilmu meskipun sampai ke negeri China, karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. Hadis tersebut adalah instruksi dari Rasul bahwa tak apa merantau untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Hal inilah yang dilakukan oleh Sam, pemuda asal Kota Gudeg yang merantau hingga ke Kota Hujan demi belajar menghafal Quran. Sam mengikuti seleksi untuk masuk ke pondok tahfizh modern yang terletak tak jauh dari pusat Kota Hujan, Bogor.
Sekolah nonformal untuk menghafal Quran tersebut bernama Ekselensia Tahfizh School (E-Tahfizh). E-Tahfizh didirikan oleh Dompet Dhuafa Pendidikan pada 2018 lalu. Sam masuk sebagai angkatan pertama bersama 6 orang temannya yang lain. Mereka berasal dari dari berbagai daerah di Indonesia.
“Alhamdulillah, saya bersyukur sekali bisa menjadi santri E-Tahfizh. Saya ingin mempersembahkan mahkota di surga buat kedua orang tua saya,” ungkap pemilik nama lengkap Usamah Imam Khomeini Al-Kadhafi ini.
Meski harus merantau cukup jauh dari keluarganya, tak menjadi penghalang bagi Sam untuk selalu bersemangat mengikuti pelajaran dan pembinaan di E-Tahfizh.
Sam adalah putra bungsu dari keluarga bersahaja yang sangat memprioritaskan pendidikan anak-anaknya.
“Ayah saya tukang ojek. Setiap hari dari jam 8 malam sampai 5 subuh beliau mangkal di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Sehari itu biasanya bawa pulang uang seratus ribu,” kata Sam dengan ceria.
Prinsip hidup ayah Sam, Karjono, sangat sederhana. Dia mengajarkan kepada anak-anaknya untuk senantiasa berikhtiar sembari berdoa, dan menggapai cita tanpa putus asa. Hal itulah yang membuat Sam mengidolakan ayahnya.
“Kakak pertama sekarang sedang menempuh semester akhir di UGM, dan kakak kedua saya sedang daftar kuliah ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Yogkarata juga,” terang Sam, dilansir dari etahfizh.org, Minggu (21/6/2020)
Karjono juga menanamkan pemahaman agama yang kuat kepada Sam dan kedua kakaknya. Sejak kecil, Sam terbiasa bangun pagi lebih awal dan salat berjamaah bersama ayahnya di masjid.
Setelahnya, dilanjutkan dengan belajar dan membaca buku. Saat waktu sekolah tiba, ayahnya jugalah yang mengantar Sam pergi ke sekolah. Sebelum masuk E-Tahfizh, Sam adalah siswa di MTsN 6 Sleman.
Sam mengenal program E-Tahfizh dari seorang kawan sekelasnya. Kemudian, mereka mencari informasi lebih lengkap dengan membuka website E-Tahfzih dan mempelajari detail persyaratannya.
Tanpa berpikir panjang, mereka menyiapkan semua berkas pendaftaran, walaupun saat itu kedua orang tua Sam belum memberi restu.
Awalnya memang berat bagi sang ibu untuk merestui Sam menimba ilmu ke luar kota. Maklumlah karena Sam anak bungsu. Meski begitu, ayah Sam memberikan dukungan penuh.
Inilah yang membuat Sam bersemangat untuk melanjutkan daftar ke program E-Tahfizh. Dengan sepeda motor andalannya, Sam waktu itu mengantarkan berkas pendaftarannya ke Dompet Dhuafa Yogyakarta.
Tak mudah untuk masuk ke E-Tahfizh. Serangkaian seleksi harus Sam lalui, dari seleksi berkas, tes kompetensi mata pelajaran, psikotest hingga wawancara orang tua/wali. Pada setiap tahapan itu, Sam lalui dengan mengerahkan kemampuan terbaik dan doa yang tak putus.
Sistem seleksi yang ketat tersebut diberlakukan E-Tahfizh untuk mencari penerima manfaat yang benar-benar tepat. Hal ini karena program E-Tahfizh sepenuhnya dibiayai dari dana masyarakat sehingga para santri tidak dipungut biaya sepeser pun untuk belajar di sana. Mereka juga diberikan fasilitas tempat tinggal yang layak di asrama.
“Tak terasa sudah 9 bulan saya dan teman-teman menimba ilmu di E-Tahfizh. Alhamdulillah, sekarang sudah hafal 22 juz. Banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapat. Selain ilmu, saya juga bisa belajar mandiri, belajar memahami karakter teman-teman yang berasal dari berbagai suku dan daerah di Indonesia,” pungkas Sam.
Editor: AguWahyudi





























