Laksamana Keumalahayati. (Foto: Nusantara News)

Oleh: Fatchuri Rosidin (Direktur Inspirasi Melintas Zaman)

ZNEWS.ID JAKARTA – Akademi Militer Kesultanan Aceh Darussalam hari itu sedang sibuk. Lapangan depan istana telah dihadiri ribuan warga Aceh. Mereka ingin menyaksikan peristiwa besar hari itu: wisuda lulusan Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis; pendidikan militer kesultanan Aceh Darussalam yang dikenal melahirkan pejuang-pejuang tangguh Aceh.

Di atas panggung, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah al-Qohhar dan para pejabat kerajaan telah hadir. Di belakangnya berbaris para perwira militer Aceh, termasuk beberapa orang instruktur militer Ma’had Baitul Maqdis asal Turki yang dikirim oleh Khalifah Utsmaniyah atas permintaan Sultan Aceh Darussalam.

Di antara para wisudawan akademi militer yang berbaris rapi di tengah lapangan, ada seorang perempuan muda yang juga diwisuda. Namanya Keumalahayati.

Ia bukan wisudawan biasa, tapi terpilih sebagai lulusan terbaik akademi militer Ma’had Baitul Maqdis. Di era kesultanan Islam Nusantara, kaum wanita mendapat peran terhormat dan aktif dalam aktivitas pemerintahan dan kemasyarakatan sebelum dibatasi perannya oleh Belanda di masa penjajahan.

Keumalahayati lahir pada 1560. Ia mewarisi darah pejuang dari ayah dan kakeknya. Ayahnya, Laksamana Mahmud Syah gugur dalam pertempuran melawan Portugis di Pangkalan Militer Portugis La Formosa Malaka tahun 1575.

Kakeknya, Muhammad Said Syah, juga seorang laksamana. Kakek buyutnya sendiri  merupakan pendiri kerajaan Aceh Darussalam yang bernama Sultan Ibrahim Ali Mughoyat Syah.

Malahayati, begitu ia lebih sering dipanggil, terjun ke dunia militer bersama suaminya yang bernama Laksamana Ibrahim Zainal Abidin; Panglima Armada V Angkatan Laut Aceh Darussalam. Dalam pertempuran melawan serangan Portugis di Teluk Haru, Malahayati bersama suaminya bahu-membahu memimpin pasukan maritim Aceh.

LEAVE A REPLY