
Terdapat pula warna putih berbentuk oval yang sangat jelas di bagian pantatnya. Sapi bali juga memiliki garis hitam pada punggung, yaitu dari gumba sampai ujung ekor atau garis belut.
Pada sapi bali jantan, terdapat karakteristik yang khas. Terjadi perubahan warna dari warna bulu merah bata menjadi hitam. Pada pejantan yang dikebiri, warna hitam berubah kembali menjadi coklat muda keemasan. Selain keunggulannya, sapi bali juga memiliki beberapa kelemahan. Pertumbuhannya lambat serta produksi susu rendah.
Dampaknya banyak pedet yang mati karena kekurangan susu dari induknya. Sapi bali juga rentan terhadap penyakit Jembarana dan memiliki kepekaan tertinggi di Indonesia terhadap penyakit Malignant Catarrhal Fever (MCF).
Namun, kelemahan itu di kalangan peternak rakyat tidak terlalu menghambat karena pemeliharaan dan penjualannya yang mudah, sehingga dapat menjadi tabungan peternak. Kini persilangan sapi bali di masyarakat semakin marak.
Populasi Persilangan
Belum diketahui data pasti populasi hasil persilangan tersebut. Namun, diyakini jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat.
Secara ekonomis metode persilangan dalam jangka pendek memang sangat menguntungkan, tetapi dampak persilangan jangka panjang terhadap reproduksi serta kemurnian genetik plasma nutfah perlu diperhitungkan.
Dibutuhkan penelitian lebih lanjut dampak persilangan agar peningkatan genetik sapi lokal dapat memberi keuntungan maksimal untuk jangka panjang.
Berdasarkan parameter reproduksi, terdapat indikasi dari beberapa penelitian yang melaporkan terjadi penurunan kinerja sapi bali persilangan.
Daya adaptasi sapi bali persilangan di lingkungan tropis yang memiliki dua musim, hujan dan kemarau, ternyata tidak setangguh sapi bali murni. Dilaporkan rata-rata angka kebuntingan sapi bali persilangan 78,9 persen lebih rendah dibanding sapi bali murni yang mencapai 90 persen.























