
Oleh: Siti Sahauni (Alumni Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)
ZNEWS.ID JAKARTA – Siapa saja dapat menulis. Tak ada batasan usia atau seberapa tinggi pangkat pendidikan seseorang yang pernah ditempuhnya. Bahkan, profesi seseorang yang digelutinya pun bukan lagi penghalang untuk menulis. Karena, menulis adalah proses di mana seseorang menuangkan ide atau gagasan yang meletup-letup di dalam kepalanya.
Ide atau gagasan yang keluar adalah bentuk kecaman seseorang karena merasa tidak terpenuhi hasratnya. Terlebih mengkritisi tentang persoalan pendidikan yang butuh pencerahan dan pengembangan kompetensi sebagai seorang pendidik.
Pada kenyataannya, guru-guru dewasa ini belum berani keluar dari zona nyaman sebagai seorang pendidik. Bukan berarti mereka harus mangkir dari tugas mulianya sebagai seorang pendidik.
Melainkan karena ia guru, sudah sepatutnya mengembangkan kompetensinya. Tidak cukup hanya mengandalkan di bidang pendidikan. Tetapi, kontribusi lainnya seperti pengembangan diri juga perlu ditingkatkan dan diperhatikan.
Menulis adalah cara yang dapat dilakukan oleh guru. Tetapi, karena minimnya pemahaman akan dunia tulis menulis dan tidak adanya motivasi diri untuk mengembangkan kompetensi, mengakibatkan kemampuan guru di daerah tetap setia pada satu keahliannya, yakni mengajar.
Kesetiaan guru yang mengabdikan diri pada dunia pendidikan memang tidak salah. Tetapi, kesalahan akan menjadi fatal apabila keahlian mengajarnya masih tetap terkesan monoton. Dan, tidak membawa perubahan bagi dirinya ataupun sekelilingnya.
Inilah salah satu penyebab mengapa guru di daerah tidak banyak mengalami peningkatan. Dalam hal ini adalah kompetensi sebagai orang yang digugu dan ditiru oleh peserta didiknya.



























