Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, bersama Dompet Dhuafa Jawa Barat dan relawan DD Volunteer Bandung bekerja sama dengan LPHD Desa Legonwetan menanam 2.500 bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Legonwetan. (Foto: DMC DD)

ZNEWS.ID SUBANG – Pesisir utara Pulau Jawa kini menghadapi tantangan serius akibat abrasi yang terus berlangsung. Setiap tahun, kawasan ini mengalami perubahan signifikan, termasuk di Desa Legonwetan, Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Ancaman abrasi dan banjir rob menjadi persoalan yang menghantui warga desa tersebut. Dampak dari fenomena ini cukup serius. Abrasi tidak hanya mengikis daratan hingga mendekati pemukiman warga, tetapi juga menghilangkan tambak-tambak ikan yang sebelumnya menjadi sumber mata pencaharian mereka.

Taryadi, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Legonwetan, menjelaskan bahwa abrasi yang diperparah oleh banjir rob telah menghancurkan tambak-tambak milik warga sejak 2004.

“Kejadian tsunami di Aceh tahun 2004 turut berdampak pada desa kami dengan air pasang yang berlangsung selama dua minggu. Sejak saat itu, abrasi terus terjadi hingga tambak-tambak di desa kami lenyap,” ujar Taryadi.

Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, bersama Dompet Dhuafa Jawa Barat dan relawan DD Volunteer Bandung bekerja sama dengan LPHD Desa Legonwetan menanam 2.500 bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Legonwetan. (Foto: DMC DD)

Selain faktor alam, aktivitas manusia dan perubahan iklim menjadi penyebab utama kerusakan pesisir. Perubahan fungsi lahan mangrove menjadi tambak ikan, sawah, dan pemukiman membuat pesisir kehilangan penghalang alami terhadap gelombang laut. Akibatnya, ekosistem pesisir terganggu dan kehidupan warga semakin sulit.

Namun, upaya pemulihan mulai dilakukan. Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, bersama Dompet Dhuafa Jawa Barat dan relawan DDV Bandung, bekerja sama dengan LPHD Desa Legonwetan untuk menanam 2.500 bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Legonwetan pada 16 Desember 2024.

“Penanaman mangrove ini merupakan langkah penting untuk mengurangi abrasi dan risiko banjir rob, sekaligus menjadi solusi mitigasi perubahan iklim,” jelas Lu’lu-u Azizah Akma dari DMC Dompet Dhuafa.

Menurutnya, mangrove tidak hanya efektif dalam menahan gelombang laut, tetapi juga dapat menyerap karbon lima kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan, sehingga berkontribusi dalam mencapai net zero emisi.

LEAVE A REPLY