
ZNEWS.ID JAKARTA – Puasa Ramadan tentu berbeda dengan puasa sunah. Puasa sunah tidak dikerjakan oleh semua orang. Puasa sunah biasa dikerjakan oleh orang yang mempunyai kadar keimanan dan ketakwaan yang cukup tinggi.
Coba lihat puasa Daud, sehari puasa sehari tidak. Puasa seperti ini mana mungkin dikerjakan oleh orang yang salatnya separuh-separuh. Yang salatnya rajin saja belum tentu mau dan mampu melakukannya. Yang biasa puasa seperti ini sudah pasti orang yang keimanan dan ketakwaannya sangat baik.
Jika puasa Daud terlalu berat, ada lagi yang lebih ringan, yaitu puasa Senin dan Kamis. Puasa ini juga tidak dilakukan semua orang. Jika umat Islam di seluruh dunia yang sudah memenuhi syarat puasa berjumlah 4 miliar, mungkin yang biasa puasa Senin Kamis tidak sampai 100 juta orang.
Ada lagi puasa sunah yang lebih ringan, puasa tiga hari di setiap pertengahan Qamariyah, puasa 13, 14 dan 15. Tapi, ya, tetap saja, tidak banyak juga yang melakukannya.
Puasa sunah lebih berat dari puasa wajib. Kok, bisa? Iya, lah. Puasa sunah itu bagi yang mau saja, tidak mau, ya, tidak masalah. Bagaimana tidak berat? Di tengah-tengah orang makan dan minum secara bebas, dia puasa.
Berbeda sekali dengan puasa Ramadan yang dilakukan berbarengan dan serentak. Justru aneh jika ramai-ramai orang berpuasa, tiba-tiba ada orang makan dan minum di keramaian tanpa malu.
Hampir dipastikan bahwa orang yang puasa sunah adalah orang baik, orang yang imannya kuat, dan rajin tentunya. Tapi, lain ceritanya untuk puasa Ramadan. Dalam hal ini, selama orang tidak punya alasan uzur syari, ia wajib berpuasa.




























