
Sebenarnya, untuk keperluan diagnosis, ada kuesioner perilaku kecanduan bermain game yang disusun berdasarkan lima faktor, antara lain preokupasi, mood, toleransi, konflik, dan pembatasan waktu.
Beberapa pertanyannya misalnya, “Apakah Anda pernah mengabaikan kebutuhan dasar seperti makan dan tidur karena online game” atau “Apakah Anda pernah gagal mencoba membatasi waktu bermain online game?”.
“Tidak pasti kita melihat setiap gamer itu kecanduan. Kita memiliki suatu tools dan memberikan asesmen untuk mengatakan anak ini kecanduan,” kata Nanda.
Lalu, apa yang bisa orang tua atau anggota keluarga lakukan pada remaja yang ternyata sudah kecanduan game online? Nanda menyarankan dibuat suatu program untuk bisa dilakukan bersama, misalnya di dalam level sekolah.
Kegiatan yang konsisten misalnya berolahraga bersama atau menstimulasi siswa untuk mengembangkan hobi baru.
Selain itu, orang tua bisa memberikan edukasi apa yang terjadi bila bermain game online berlebihan. Nanda menyoroti pentingnya pembahasaan yang perlu dibedakan dari biasanya.
“Pembahasaan kita dalam melakukan promotive behaviour itu harus berbeda dari biasanya. Jadi, tidak lagi konvensional. Misalnya, menggunakan film, animasi. Penyampaiannya melalui komunikasi. Orang tua secara aktif dan pasif memonitor kegiatan anak saat bermain game online. Ini meningkatkan keterlibatan orang tua,” kata Nanda.























