Ilustrasi: Dana surplus sebesar Rp 1.001.000.000 diserahkan langsung oleh Herdiansah, selaku Direktur Asset Trust Development, kepada pihak Dompet Dhuafa yang dalam hal ini diwakili oleh Yayat Supriyatna, Sekretaris Yayasan Dompet Dhuafa, pada akhir Maret 2021 lalu. (Foto: Dompet Dhuafa)

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie (Founder dan CEO Ekselensia Tahfizh School, Founder dan CEO Insani Leadership, Pendiri Wakaf Insani Institute, Konsultan Pendidikan, Praktisi Wakaf)

ZNEWS.ID JAKARTA – Penghimpunan wakaf produktif masih menjadi tantangan pengembangan wakaf di Indonesia. Mengajak masyarakat untuk berwakaf sosial, seperti wakaf sumur, masjid, dan pesantren, jauh lebih mudah daripada wakaf produktif seperti wakaf saham, pasar, dan pom bensin.

Data di lapangan menunjukkan target perolehan penghimpunan wakaf sumur miliaran rupiah bisa dicapai dengan mudah dan tanpa strategi penghimpunan yang rumit. Hal ini tentu satu pencapaian yang patut diapreasiasi. Namun demikian, dalam konteks business process wakaf, wakaf sosial tidak berkorelasi langsung terhadap surplus wakaf.

Wakaf sumur misalnya, prosesnya selesai ketika nazir merealisasikan pembangunan sumur wakaf. Masyarakat memperoleh manfaat berupa air dari sumur wakaf tersebut. Namun, sumur wakaf tidak menghasilkan surplus wakaf karena tidak bisa diproduktifkan.

Tentu saja penghimpunan wakaf sosial harus tetap dijalankan. Karena, dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, ketika kita berbicara dalam konteks wakaf dan perekonomian Islam, terlebih mewujudkan peradaban wakaf, maka nazir harus mulai beralih pada wakaf produktif.

Wakaf produktiflah yang menggambarkan business process wakaf secara utuh. Mulai dari penghimpunan wakaf, pengembangan aset, perolehan surplus, sampai penyaluran surplus wakaf kepada mauquf alaih (penerima manfaat wakaf).

Oleh karena itu, paradigma penghimpunan wakaf perlu dipahami oleh setiap lembaga wakaf. Penghimpunan wakaf bukan sekadar besar-besaran jumlah transaksi. Jumlah penghimpunan yang besar, namun tidak berkorelasi terhadap surplus wakaf, belum bisa disebut keberhasilan.

Lantas, bagaimana paradigma penghimpunan wakaf? Setidaknya ada tiga paradigma yang mesti dibangun. Pertama, aktivitas penghimpunan wakaf berarti mensyiarkan syariat wakaf.

Masih banyak umat Islam yang belum memahami syariat dan strategisnya wakaf sebagai salah satu instrumen keuangan sosial syariah untuk mewujudkan kesejahteraan.

BACA JUGA  5 Tips Wakaf Online Aman, Amanah dan Mudah

Jika zakat adalah solusi kemiskinan, maka wakaf adalah solusi kesejahteraan. Bahkan, dalam sejarahnya wakaf menjadi pilar penting dalam membangun peradaban.

LEAVE A REPLY