Liburan berlangsung dari 13 April hingga 17 April, yang merupakan Hari Tahun Baru.
Pasukan keamanan telah membunuh 706 pengunjuk rasa, termasuk 46 anak-anak, sejak militer merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi dalam kudeta 1 Februari, menurut hitungan kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).
Penghitungan itu termasuk 82 orang yang tewas di Kota Bago, sekitar 70 km (45 mil) timur laut Yangon, pada Jumat. AAPP menyebut peristiwa itu sebagai “ladang pembantaian”.
Ada laporan di media sosial tentang penembakan oleh pasukan keamanan di Kota Tamu di barat laut pada Senin dan polisi membubarkan protes di Kota Mandalay.
Keterangan rinci soal kekerasan sulit diperoleh karena junta militer membatasi internet dan layanan data seluler.
Juru bicara junta tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.
Surat kabar Global New Light of Myanmar yang dikelola negara, dalam sebuah laporan tentang kekerasan di Bago, mengatakan perusuh yang bersenjatakan senjata darurat telah menyerang pasukan keamanan ketika mereka mencoba untuk membersihkan barikade pengunjuk rasa. Satu perusuh dilaporkan tewas.





























