Ilustrasi: Botol vaksin Moderna untuk melawan virus corona (COVID-19). /ANTARA FOTO/REUTERS/Eduardo Munoz/Pool/foc/cfo

ZNEWS.ID, JAKARTA – Program vaksinasi COVID-19 di sejumlah negara belum menjangkau anak-anak dan balita hingga saat ini. Meski balita dan anak-anak termasuk kelompok rentan terpapar virus corona karena sistem imun yang belum memadai, namun masih dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melaksanakan vaksinasi terkait efek samping yang akan terjadi.

Dilansir Livescience, perusahaan farmasi Moderna menjadi salah satu perusahaan yang memulai menguji vaksin COVID-19 pada anak-anak berusia 6 bulan hingga 11 tahun. Uji coba tersebut melibatkan anak-anak sehat di AS dan Kanada dan akan dilakukan dalam dua bagian.

Pada tahap pertama, perusahaan akan menguji bagaimana para peserta menanggapi berbagai tingkat dosis vaksin. Anak-anak yang berusia di atas 2 tahun dapat menerima 50 atau 100 mikrogram vaksin per dosis, sedangkan anak-anak di bawah 2 tahun dapat menerima 25, 50 atau 100 mikrogram.

Setiap anak akan menerima total dua dosis, dengan masing-masing dosis diberikan dengan jarak 28 hari, jarak yang sama dengan suntikan yang diberikan kepada orang dewasa.

Anak-anak pertama yang divaksinasi dalam setiap kelompok akan menerima dosis vaksin terendah, sehingga penyelenggara uji coba dapat mengawasi efek samping sebelum memberikan dosis yang lebih tinggi kepada anak-anak lain, lapor The New York Times.

Setelah tahap pertama, Moderna akan melakukan analisis sementara untuk menentukan tingkat dosis yang sesuai untuk setiap kelompok umur. Anak-anak yang terdaftar di tahap kedua uji coba akan menerima dosis yang dipilih melalui analisis ini atau suntikan garam plasebo, menurut ClinicalTrials.gov.

Para peserta uji coba akan dipantau selama setahun setelah suntikan mereka, untuk melacak efek samping, tingkat antibodi, dan kasus infeksi COVID-19.

LEAVE A REPLY