
ZNEWS.ID, JAKARTA – Tekanan dunia internasional atas terjadinya kudeta militer di Myanmar terus merebak. Dari Asia Tenggara, Eropa hingga Amerika menyerukan pembebasan pemimpin de-facto Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint, yang dtangkap pihak militer Senin dini hari.
Panglima militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing, tokoh utama dalam kudeta tersebut menjadi sorotan. Jenderal angkatan darat paling berkuasa di negara tersebut itu telah menetapkan status darurat ke Myanmar selama satu tahun.
Siapa Min Aung Hlaing. Dunia internasional selama ini telah mengenalnya sebagai otak dari gerakan pengusiran terhadap etnis Rohingya yang terjadi pada tahun 2017 lalu.
Min Aung Hlaing lahir di Tavoy, Burma (sekarang Dawei, Myanmar) pada 3 Juli 1956. Ayahnya merupakan seorang insinyur sipil yang bekerja di Kementerian Konstruksi di negara setempat.
Pria berusia 64 tahun pernah dijauhi teman sekelasnya saat menempuh pendidikan di Rangoon Arts and Science University karena kepribadiannya yang pendiam.
Suami dari Kyu Kyu Hla memulai karir militernya pada tahun 1974 dengan bergabung di Korps Pelatihan Universitas pada tahun 1971–1974 berpangkat sersan. Pada Januari 1974 ia mengikuti pendidikan di Akademi Layanan Pertahanan.
Setelah lulus, Min Aung Hlaing melanjutkan ke posisi komando di Negara Bagian Mon dan pada tahun 2002, dia dipromosikan menjadi komandan Komando wilayah segitiga di Negara Bagian Shan Timur dan merupakan tokoh sentral dalam negosiasi dengan dua kelompok pemberontak, Tentara Negara Bagian Wa ( UWSA) dan Tentara Aliansi Demokratik Nasional (NDAA).





























