Ilustrasi Merdeka dari Kecemasan akibat Pandemi. (Foto: Shutterstock)

Perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya, sedikit banyak berperan sebagai batas ini. Selama perjalanan ke kantor, orang-orang bersiap dengan kondisi bekerja sehingga meninggalkan urusan di rumah sementara waktu.

Begitu juga saat kembali ke rumah. Orang-orang bersiap menghadapi kondisi rumah dan menyimpan urusan pekerjaan.

Jam kerja juga berlaku secara jelas. Tetapi saat pandemi, pekerjaan atau rapat yang dapat dikerjakan secara daring dapat berlangsung sampai malam hari. Ini membuat tubuh selalu dalam kondisi siaga.

“Ini membuat semuanya campur aduk dan membuat orang-orang selalu on dan sulit tidur. Kemudian bagi mereka yang sudah memiliki kepribadian pencemas, tidurnya menjadi lebih bermasalah,” kata Sali.

Masalah tidur terus menerus atau insomnia terbagi menjadi beberapa tipe yakni sulit tidur, terus bangun di malam hari dan bangun terlalu pagi. Biasanya masalah dimulai dari sulit tidur lalu semakin lama berkembang ke tipe lain.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara sekaligus psikoterapis, Sandi Kartasasmita, sependapat dengan Sali.

Dia menyoroti pimpinan-pimpinan yang memberikan pekerjaan pada pegawainya tanpa mengenal jam kerja. Ini menyebabkan masalah fisik dan mental dialami para pegawai, salah satunya berujung pada insomnia.

LEAVE A REPLY