ilustrasi Merawat Momentum Pertumbuhan di Tengah Lonjakan Harga Energi. (Foto: ANTARA/HO/SKK Migas)

Beruntung, kasus kelangkaan minyak goreng itu tidak mereduksi proses pemulihan. Kendati masyarakat sangat kecewa dengan kasus itu, kekecewaan itu tidak menekan proses penguatan konsumsi rumah tangga.

Sebagaimana dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (9/5/2022) lalu, perekonomian Indonesia tumbuh 5,01 persen pada kuartal I 2022. Produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp4.513 triliun dan berdasarkan harga konstan mencapai Rp2.819 triliun.

Sangat menggembirakan karena BPS juga menggambarkan bahwa struktur pergerakan mesin-mesin pertumbuhan sudah kembali ke level sebelum pandemi Covid-19. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor menunjukkan pertumbuhan yang solid. Industri pengolahan menjadi penggerak utama pertumbuhan dengan porsi 65,74 persen, karena mencatatkan pertumbuhan 5,71 persen.

Selain itu, pemulihan bertahap pada aktivitas masyarakat menjadi faktor pendorong menguatnya konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,34 persen. Masih menurut BPS, Kinerja ekspor pada kuartal I-2022 meningkat. Nilai ekspor hingga Maret 2022 mencapai 66,14 miliar dolar AS. Sedangkan pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 4,06 persen.

Pertumbuhan pada kuartal I 2022 ini bahkan mampu menyerap 4,55 juta tenaga kerja. Kecenderungan positif itu menjadi pertanda bahwa pondasi perekonomian nasional sudah kembali ke jalur proses pemulihan saat daya rusak pandemi Covid-19 mulai melemah. Namun, dinamika global mengingatkan Indonesia untuk selalu waspada.

Proses pemulihan sekarang ini ternyata harus berhadapan dengan tantangan riil. Tantangan bersamanya adalah menjaga dan merawat momentum pertumbuhan ekonomi sekarang ini agar dapat berlangsung konstan.

Semua elemen masyarakat hendaknya aktif berkontribusi mewujudkan kondusivitas pada semua aspek kehidupan. Dengan iklim perekonomian yang kondusif, investasi akan terus bertumbuh dan menciptakan lapangan kerja baru.

Memang, menjaga momentum pertumbuhan sekarang ini menjadi tidak mudah karena adanya ketidakpastian global akibat invasi Rusia ke Ukraina. Salah satu dampak langsung dari invasi militer Rusia itu adalah naiknya harga energi.

Hari-hari ini, komunitas global harus menerima fakta tentang tingginya harga energi. Di dalam negeri, masyarakat kebanyakan juga sudah merasakan dampak itu dalam wujud naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

LEAVE A REPLY