
ZNEWS.ID JAKARTA – Suatu hari, Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi, dua sufi terkenal, bertemu di Makkah. Dalam pertemuan itu, Ibrahim bin Adham berhasil mengubah cara pandang Syaqiq Al-Balkhi melalui dialog yang mendalam.
Ibrahim memulai percakapan dengan bertanya, “Bagaimana awal perjalanan spiritualmu?” Pertanyaan ini tercatat dalam kitab ‘Uyunul Hikayat karya Imam Ibnu Jauzi (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1971, hlm. 285)
Syaqiq kemudian menceritakan pengalamannya. Ia mengisahkan bahwa suatu hari, ketika tengah berjalan di gurun, ia berhenti untuk beristirahat di bawah terik matahari.
Di tempat itu, ia melihat seekor burung dengan sayap patah yang tidak bisa terbang atau mencari makan.
Syaqiq penasaran bagaimana burung itu bisa bertahan hidup. Saat memerhatikannya, tiba-tiba datang burung lain yang sehat. Burung sehat itu membawa belalang di paruhnya dan memberikannya kepada burung yang sakit.
Melihat kejadian ini, Syaqiq tertegun dan memuji kebesaran Allah yang mampu menyediakan rezeki bagi makhluk-Nya yang tak berdaya. Ia pun berpikir, “Allah pasti juga akan memberi rezeki kepadaku, di mana pun aku berada.”
Setelah itu, Syaqiq memutuskan untuk lebih fokus beribadah dan meninggalkan pekerjaan, yakin bahwa Allah akan mencukupi kebutuhannya seperti burung yang sayapnya patah itu.





























