Ilustrasi membaca buku. (Foto: kaboompics.com)

Oleh: Andi Ahmadi (Penggiat Literasi Keluarga, Fasilitator Keluarga Madaya Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID JAKARTA – Barangkali kita pernah atau bahkan sering mendengar nasihat dari motivator menulis yang mengatakan bahwa kunci untuk bisa menulis yang baik adalah dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Tapi, apakah benar dengan rajin menulis bisa menjamin tulisan kita menjadi bagus?

Ungkapan bisa karena biasa memang ada benarnya. Tapi untuk kasus menulis, itu belum didukung dengan hasil penelitian yang relevan dan bisa kita jadikan sebagai dasar.

Stephen Krashen dalam bukunya The Power of Reading justru mengatakan sebaliknya; para siswa yang paling sering menulis bukanlah penulis yang terbaik. Loh, kok, bisa?

Seorang penulis dan penggiat literasi dari AS, Jim Trelease, dalam bukunya The Read-Aloud Handbook mengemukakan bahwa penulis yang baik itu mirip pemain bisbol.

Pemain bisbol harus bermain teratur, tetapi mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka baik di atas lapangan atau di pinggir lapangan, menonton pemain lain memukul, berlari, menangkap, dan melempar.

Artinya, penulis yang baik akan melakukan hal yang sama—mereka menulis, selain itu mereka juga membaca lebih banyak, serta menyaksikan bagaimana orang lain melempar kata-kata untuk menangkap maknanya.

Apa yang disampaikan Jim Treleases tersebut seakan menyadarkan kita bahwa jika ingin menjadi penulis yang baik, alih-alih cuma memperbanyak menulis, justru kita harus lebih banyak membaca.

LEAVE A REPLY