Oleh: Hendrikus Ingrid Meze Doa (ASN Ditjen Bimas Katolik)
ZNEWS.ID JAKARTA – Masjid Istiqlal genap berusia 47 tahun pada 22 Februari 2025. Saya ucapkan selamat dan sukses atas semua pencapaian luar biasa. Masjid Istiqlal menorehkan pengalaman inspiratif bagi saya (baca penulis). Ada yang terus menggema ketika merasakan momen “masuk lebih ke dalam” di Masjid Istiqlal di kala itu. Kisah itu hendak saya torehkan dalam tulisan ini.
Saya temukan frasa “masuk lebih ke dalam” sebagai pintu masuk menemukan makna terdalam dari kisah yang dialami. Sebagai seorang Kristiani frasa ini sepadan dan layak untuk digunakan. Penulis mengenal istilah Latin Duc In Altum, yang secara harfiah berarti “bertolak ke tempat yang dalam.”
Pesan ini berasal dari Tuhan Yesus sebagaimana tertulis dalam Injil Lukas 5:4, ketika Tuhan Yesus meminta para murid-Nya, khususnya Simon Petrus, untuk berlayar lebih jauh ke tengah danau serta menebarkan jala mereka kembali setelah semalaman tidak menangkap ikan. Karena mengikuti permintaan Tuhan Yesus, Simon Petrus dan teman-temannya berhasil mendapatkan ikan yang banyak.
Dengan demikian pemilihan frasa “masuk lebih ke dalam” menegaskan disposisi bathin penulis untuk melihat perjalanan atau peziarahan serantak memperdalam pemahaman, memperluas pengetahuan, dan memanjangkan tali persaudaraan. Upaya untuk meninggalkan yang “dangkal” menuju yang “dalam” dan “berisi”.Sebuah pilihan untuk menyelami esensi dan bukan fenomena dari sesuatu hal.
Sebuah Cerita
Awal April 2024, saya mendapatkan informasi bahwa Masjid Istiqlal menyediakan beberapa kursus bahasa asing secara gratis, salah satunya bahasa Arab. Saya tertarik untuk mendalami bahasa Arab. Keinginan untuk belajar bahasa Arab telah ada sejak masa kuliah S1 di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, Jawa Timur.
Saat itu, penulis mengikuti mata kuliah Islamologi yang diajarkan oleh Romo Evensius Dewantoro, Pr., seorang imam Katolik yang fasih berbahasa Arab dan mendalami Islamologi. Ia juga pernah menyambut Raja Arab Saudi saat kunjungan ke Indonesia pada 2017.
Minat ini semakin kuat ketika saya berkenalan dengan beberapa guru besar di UIN Alauddin Makassar, seperti Prof. Zulfahmi Alwi dan Prof Barsihannor, dalam Program Persiapan Studi Lanjut S3 (PPSL) Beasiswa Indonesia Bangkit, 30 November 2024 sampai dengan 17 Februari 2025. Setelah mencari informasi melalui Instagram BPMI, saya mengikuti kursus bahasa Arab di Pusat Kajian dan Pengembangan Masjid Istiqlal (PKU-MI) pada 18 Mei 2024.
Namun, ternyata kursus tersebut diperuntukkan bagi mereka yang telah memiliki dasar bahasa Arab. Meski demikian, pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam, termasuk memperoleh buku Metode Mumtaz: Cepat dan Mudah Pintar Membaca Kitab Kuning karya Dr Alimin, MAg dan Dr Saifuddin Zuhri MAg.
Masuk Lebih ke Dalam
Pengalaman “masuk lebih ke dalam” di Masjid Istiqlal ini memberikan beberapa makna mendalam bagi saya.
Pertama, bahasa sebagai sarana memahami budaya. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga jendela untuk memahami nilai-nilai, tradisi, dan cara berpikir suatu bangsa. Penguasaan atas sebuah bahasa membuka wawasan yang lebih luas, memungkinkan seseorang untuk menyelami kebudayaan lain secara lebih mendalam.
Lebih dari itu, bahasa juga memainkan peran penting dalam mempererat hubungan antarindividu dan antarbangsa, membangun pemahaman yang lebih baik, serta mengurangi potensi konflik akibat kesalahpahaman.
Masjid Istiqlal menyediakan berbagai kursus bahasa, seperti bahasa Arab, Mandarin, Ibrani, dan Aramaik. Ini menunjukkan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan kebudayaan yang terbuka bagi semua. Seperti yang ditegaskan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, “Siapapun boleh masuk untuk mencari kebaikan bagi umat manusia melalui masjid ini.
Sejak awal, Masjid Istiqlal berfungsi untuk membudayakan dan melayani semua orang.” Masjid ini diharapkan menjadi rumah ilmu pengetahuan yang inklusif bagi siapa saja yang ingin belajar (Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, 2018: hal.xxi).
Kedua, Masjid Istiqlal sebagai ruang refleksi spiritual. Masjid Istiqlal bukan hanya bangunan megah yang menjadi simbol Islam di Indonesia, tetapi juga ruang perjumpaan dan refleksi. Nama “Istiqlal,” yang berarti “kemerdekaan,” menegaskan bahwa masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga simbol persatuan dalam keberagaman Indonesia.
Pengalaman memasuki masjid ini memberikan pemahaman yang lebih dalam bagi saya tentang nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan keterbukaan antarumat beragama.
Ketiga, Masjid Istiqlal sebagai ruang dialog dan transformasi. Refleksi tentang “masuk lebih ke dalam” juga membawa kesadaran bahwa Masjid Istiqlal bukan hanya simbol arsitektur atau rumah ibadah, tetapi juga wadah untuk membangun jembatan antara umat beragama. Masjid ini menjadi saksi berbagai dialog lintas agama yang sering kali melibatkan pemimpin umat Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Momentum bersejarah terjadi pada 5 September 2024, saat Masjid Istiqlal menjadi tempat penandatanganan Deklarasi Istiqlal oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA.
Deklarasi ini menegaskan bahwa agama-agama memiliki peran penting dalam menciptakan dan mempertahaankan dunia sebagai rumah bersama yang damai dan inklusif. Masjid Istiqlal, dengan peran strategisnya, terus membuktikan diri sebagai ruang perjumpaan bagi berbagai keyakinan demi kehidupan yang lebih harmonis.
Demikian refleksi sederhana dari saya untuk sedikit memberi warna di hari yang istimewa ini. Kembali saya mengucapkan selamat ulang tahun dan berharap Masjid Istiqlal terus menjadi cahaya bagi bangsa. Semoga Masjid Istiqlal tidak hanya memperkaya spiritualitas umat Islam, tetapi juga menjadi simbol perdamaian dan persaudaraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Semoga semakin terbuka, semakin inklusif, dan semakin menjadi ruang yang mengajak banyak orang untuk “masuk lebih ke dalam”: memahami iman, persaudaraan, dan kemanusiaan dengan lebih dalam dan bermakna.
Sumber: Kemenag




























