
ZNEWS.ID SUMEDANG – Bersama teman-temannya yang juga terdampak pandemi, Budi mulai mencoba memanggang dan menyeduh kopi dari teras rumah. Rasa ingin tahu yang besar membuatnya terus belajar dan meningkatkan kemampuannya di bidang kopi.
Kisah perjalanan Budi memperlihatkan pentingnya semangat, ketekunan, pendidikan yang transformatif, dan peran zakat dalam mengubah kehidupan seseorang.
Pandemi Covid-19 menjadi momen krusial baginya. Ia kehilangan pekerjaan sebagai tenaga kontrak di kawasan industri Tangerang. Hal itu memaksanya mencari peluang baru. Minatnya terhadap kopi yang tersimpan lama mendorongnya untuk menjalani hidup baru.
“Mengenal kopi dari kecil, suka ikut cicipi kopi orang tua. Inspirasinya sebelum pandemi bermula dari mendapat job untuk repair mesin kopi dari klien yang merupakan perusahaan kopi yang cukup besar di Indonesia. Dari situ muncul ketertarikan, kalau saya bilang, minum kopi enak,” ungkap Budi saat ditemui Tim Dompet Dhuafa di kedai kopinya, JC7 Cafe Jatinangor, beberapa waktu lalu.

Dari situ, Budi mulai belajar, membeli dan menyimpan ragam peralatan/mesin pembuat kopi sederhana untuk menikmati kopi di rumah.
“Suatu waktu saya dan teman-teman sedang ngopi di teras rumah, tiba-tiba ada orang datang dan pesan kopi ke saya. Mungkin karena sekilas tampilan peralatan kopinya seperti kedai. Wah, ini bagi saya bingung sekaligus pemantik,” katanya.
Masa-masa sulit pascadirumahkan dihadapi. Budi berupaya dengan melamar pekerjaan ke sana-sini, namun tak kunjung membuahkan hasil. Ia berupaya survive dengan berjualan roasted bean dan mencoba memasok ke beberapa kedai kopi.
“Dirumahkan cukup lama, hampir tiga tahun. Tapi, saya harus survive, jadi banyak belajar dan diskusi bareng kawan-kawan yang sudah bergelut di bidang kopi. Saya coba jual roasted bean dan supply ke kedai kopi di Bandung, dapat sampai dua kilogram per pekan,” jelasnya.

























