Jakarta, ZNews.id – Nama Lim Hariyanto Wijaya Sarwono kembali mencuat setelah masuk dalam jajaran 10 orang paling kaya di Indonesia versi Forbes Real Time Billionaires. Berdasarkan data per 18 Februari, kekayaannya tercatat mencapai 6,2 miliar USD atau sekitar Rp104,43 triliun dengan asumsi kurs Rp16.844 per dolar AS.
Posisi tersebut membuatnya berada di lingkar elite konglomerat nasional, bahkan menyalip sejumlah nama besar di sektor tambang. Sumber kekayaannya bertumpu pada bisnis sumber daya alam yang dibangun melalui bendera Harita Group—mulai dari kayu, kelapa sawit, bauksit hingga nikel terintegrasi.
Fondasi Bisnis dari Warung Kelontong
Kerajaan bisnis Lim bukanlah hasil instan. Akar usahanya bermula lebih dari seabad lalu. Sang ayah, Lim Tju King—perantau asal Fujian, China—membuka toko kelontong di Kalimantan pada 1915. Usaha sederhana itu menjadi batu loncatan keluarga untuk masuk ke sektor perdagangan yang lebih luas.
Generasi berikutnya membawa bisnis tersebut naik kelas. Lim Hariyanto mengambil alih dan mulai mengembangkan industri perkayuan pada dekade 1980-an. Dari penjualan kayu gelondongan, usaha berkembang hingga produksi kayu lapis.
Melalui PT Harita Jayaraya, keluarga Lim menjadi pemegang saham pengendali PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) dengan kepemilikan sekitar 73,54% atau 744 juta saham. Perusahaan ini menjadi salah satu basis awal ekspansi Harita Group di industri kehutanan.
Transformasi dari toko kelontong menjadi pemain industri kayu skala besar memperlihatkan strategi bertahap: memperkuat pondasi, lalu melakukan diversifikasi.
Ekspansi ke Sawit dan Tambang
Setelah kayu, Harita Group memperluas jejaknya ke sektor perkebunan. Keluarga Lim tercatat sebagai pemegang saham mayoritas Bumitama Agri, produsen minyak kelapa sawit yang terdaftar di Bursa Singapura dengan lahan perkebunan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Langkah berikutnya masuk ke pertambangan. Pada 2005, Harita Group mengakuisisi PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), yang kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan bauksit utama di Indonesia. Melalui Harita Jayaraya, grup ini menguasai sekitar 60% saham CITA.
Pilar terpenting dalam lonjakan kekayaan Lim datang dari bisnis nikel. Ia mengembangkan perusahaan pengolahan nikel terintegrasi, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Emiten ini melantai di bursa pada 2023 dengan menghimpun dana sekitar US$ 650 juta dari penawaran saham perdana (IPO).
Saham-saham yang terafiliasi dengan Lim di Bursa Efek Indonesia terkonsentrasi di sektor nikel, pertambangan, dan perkayuan—yakni NCKL, CITA, dan TIRT. Kenaikan valuasi sektor nikel, seiring meningkatnya permintaan global untuk bahan baku baterai kendaraan listrik, turut mendongkrak nilai kekayaan grup ini.
Regenerasi dan Keberlanjutan Bisnis Keluarga
Bisnis Harita Group kini memasuki fase regenerasi. Dari tujuh anak Lim, dua di antaranya memegang peran strategis dalam operasional perusahaan.
Lim Gunawan Hariyanto menjabat sebagai CEO Harita Group sekaligus memimpin Bumitama Agri. Sementara Lim Christina Hariyanto dipercaya sebagai Presiden Komisaris Harita Kencana Sekuritas dan juga Direktur Eksekutif di Bumitama Agri.
Model suksesi ini menunjukkan upaya menjaga kesinambungan usaha keluarga. Regenerasi menjadi faktor penting dalam mempertahankan stabilitas dan arah strategis grup, terutama di sektor sumber daya alam yang sangat dipengaruhi dinamika harga komoditas global.
Strategi Diversifikasi dan Momentum Komoditas
Masuknya Lim Hariyanto ke daftar 10 besar orang terkaya Indonesia bukan hanya soal angka kekayaan, melainkan cerminan strategi bisnis jangka panjang. Diversifikasi ke berbagai lini sumber daya alam membuat Harita Group tidak bergantung pada satu komoditas saja.
Ketika harga kayu atau sawit berfluktuasi, sektor tambang—terutama nikel—menjadi penopang utama. Momentum transisi energi global yang mendorong kebutuhan nikel untuk baterai kendaraan listrik turut menjadi katalis pertumbuhan nilai perusahaan.
Dengan kekayaan yang kini menembus lebih dari Rp100 triliun, perjalanan Lim Hariyanto menggambarkan transformasi bisnis keluarga dari usaha ritel kecil menjadi konglomerasi sumber daya alam berskala internasional. Sebuah kisah tentang konsistensi, ekspansi bertahap, dan kemampuan membaca arah pasar komoditas dalam jangka panjang.























