
ZNEWS.ID SEMARANG — Anak laki-laki itu hanya terdiam saat tim Dompet Dhuafa Jawa Tengah datang membawa sesuatu untuknya. Sejurus kemudian, semburat senyum tersungging dari bibir bocah berumur 8 tahun itu.
Rona bahagia terpancar jelas di wajah Dimas Ahmad Alfirdaus, saat mencoba kursi roda pemberian tim Dompet Dhuafa Jawa Tengah. Sesekali, Dimas mencoba kursi roda itu. Kadang ke kiri, lalu ke kanan. Bahagia sekali.
Putra dari Komsih Jumiati (36) ini rupanya telah lama mendambakan hadiah itu. Baginya, kursi roda adalah semangat baru. Di mana, dia bisa membaur bersama teman-teman sebayanya. Bermain dan bersenda gurau bersama mereka.
Selama ini, Dimas tidak bisa beraktivitas. Dia hanya bisa merangkak. Kesehariannya hanya dihabiskan dengan berdiam diri di dalam rumah. Karena itu, pemberian dari tim Dompet Dhuafa Jawa Tengah ini menjadi kado Lebaran terindah buat Dimas. Hadiah yang telah lama ia nantikan.
Menurut cerita sang ibu, saat dalam kandungan, kondisi Dimas normal. Bahkan asupan gizinya terpenuhi. Namun, takdir berkata lain. Saat Dimas lahir, kakinya mengalami kelainan. Sedih dan pilu. Seakan tak percaya. Rasa itu menggelayut di benak Komsih dan suami. Namun, mereka mencoba tegar.
Menginjak usia kanak-kanak, Komsih baru mengetahui kondisi jantung putranya itu bocor. Dimas juga kurang bisa mendengar dan susah diajak berkomunikasi.
“Setiap diajak berbicara, mata Dimas seperti tidak fokus. Kadang, kalau disuruh, Dimas juga mau. Namun memang agak susah berkomunikasi dengannya,” terang Komsih.
Diakui Komsih, awalnya ia sempat bingung dengan kondisi putra kesayangannya itu. Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana cara mengobatinya? Perasaan itu kerap menghantui pikirannya. Sedangkan, yang ia tahu, biaya operasi jantung bocor bisa menghabiskan sekitar Rp 200 jutaan.
Tentu, bukan hal mudah bagi Komsih mendapatkan uang sebanyak itu. Terlebih ayah Dimas yang dulu hanya seorang buruh harian lepas. Beruntung, di tahun 2013, dengan BPJS, Dimas bisa menjalankan operasi jantung bocornya. Tak lama, kaki Dimas turut dioperasi.
Sayangnya, kondisi Dimas belum bisa sempurna sepenuhnya. Dia belum bisa berlarian dan bermain bersama teman-temannya. Saat ini, Dimas baru bisa merangkak. Ia hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah.
Selama di rumah, Dimas terkadang menonton Youtube melalui ponsel ibunya. “Dimas ini senang sekali dengan motor. Kalau pinjam handphone saya, selalu buka Youtube dan nonton motor-motoran,” terang Komsih.
Komsih memang sosok ibu yang kuat. Ia tak pernah mengeluh mengurus Dimas dengan segala kekurangannya. Bahkan, Komsih menjadi salah satu penggerak komunitas difabel di Meteseh, Semarang. Di sana, ada sekitar 50 anak difabel. Sementara yang membutuhkan kursi roda ada tiga orang, salah satunya Dimas. (DD Jateng)























