
Ada pula yang mencari kesempatan kerja sana sini namun dapat di bidang yang levelnya jauh dari kemampuannya. Yang paling sadis adalah menjadi manusia yang memiliki banyak waktu luang alias pengangguran.
Namun, ada pula yang langsung dapat posisi yang diidam-idamkan sejak lama. Ya, para alumni perguruan tinggi harus bertarung kembali dengan para ribuan pelamar kerja untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak untuk menjalani kehidupan.
Berangkat sepagi mungkin, pulang seakhir mungkin. Kerja keras, tidak peduli jam istirahat berkurang, juga asupan gizi dan nutrisi berkurang. Hinaan dan cacian menjadi makanan hampir setiap hari.
Tekanan tinggi. Patokan target tinggi. Berdesakan di transportasi umum. Stres karena menghabiskan waktu yang lama pada kemacetan.
Izin untuk acara keluarga tidak enakan dengan atasan. Bayaran tidak seberapa dengan keringat yang dikeluarkan. Hidup menjadi sendiri. Teman menjadi sedikit.
Karena ritme yang begitu luar biasa, telah membentuk kepribadian manusia baru. Ada yang menjadi lebih kuat, ada pula yang sebaliknya.
Perumpamaannya, dulunya seekor harimau, keluar kandang menjadi seekor kucing. Menjadi sendiri. Menjadi bombing. Hal-hal demikian tentu akan dihadapi di hampir seluruh lulusan.
Dengan demikian, pada kondisi tersebut, seyogianya seorang dewasa mampu memutuskan pilihan. Tinggal tetap menjadi kuat atau mengikuti arus. Tinggal menjadi kaum minoritas, atau mayoritas. Tinggal menjadi manusia yang selalu mengejar uang, atau yang mengatur uang. (baktinusa.id)




























