
ZNEWS.ID JAKARTA – Negara Indonesia mempunyai posisi geografis di dalam Ring of Fire, banyak sesar dan juga diapit 3 lempeng bumi yaitu Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, serta lempeng Pasifik. Hal ini menyebabkan Indonesia sangat rawan dilanda peristiwa gempa bumi baik vulkanik maupun tektonik.
Efek dari goncangan gempa berpotensi menimbulkan bencana tsunami yang selalu menelan ratusan korban jiwa seringkali berasal dari gempa bumi tektonik bawah laut, maupun tanah longsor bawah laut.
Kesiapsiagaan bencana perlu dipersiapkan dengan sistem yang akurat memberikan data dan efektif mendeteksi adanya gejala gelombang tsunami. Telah banyak teknologi yang mendukung sistem peringatan dini tsunami di Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System).
Salah satunya adalah sistem deteksi dengan berbasiskan Kabel Fiber Optik sebagai teknologi terkini pendeteksi tsunami.
BRIN melalui Pusat Riset Elektronika tengah mengembangkan sebuah riset yang dinamakan Ina-CBT (Indonesia Cable-Based Tsunameter) atau teknologi deteksi tsunami berbasiskan sensor di dasar laut dalam yang terhubung dengan landing-station di pantai melalui kabel fiber-optik.
Michael Andreas Purwoadi, peneliti ahli utama dari riset ini menjelaskan bahwa Ina-CBT ini sebagai pendeteksi tsunami dengan mengukur tekanan air yang lewat di atasnya.
Pendeteksi gelombang tsunami dengan menggunakan kabel fiber optik bawah laut merupakan sebuah penyempurnaan dari teknologi pendeteksi tsunami sebelumnya yaitu pendeteksi dengan menggunakan teknologi buoy.




























