Jakarta, ZNews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan Rabu (4/2/2026) dengan penguatan, meski sepanjang hari sempat bergerak volatil. Indeks ditutup naik 0,3 persen atau bertambah 24,12 poin ke posisi 8.146,72.
Perdagangan hari ini diwarnai tarik-menarik antara tekanan jual dan aksi beli, sebelum akhirnya pasar menemukan momentum penguatan di sesi kedua.
Ringkasan perdagangan IHSG:
- Penutupan: 8.146,72
- Kenaikan: 0,3% (24,12 poin)
- Kapitalisasi pasar: Rp 14.706 triliun
- Nilai transaksi: Rp 25,07 triliun
- Volume perdagangan: 42,05 miliar saham
- Frekuensi transaksi: 2,81 juta kali
Mayoritas Saham Melemah, Tapi Indeks Tetap Naik
Secara keseluruhan, pergerakan saham di bursa cenderung tertekan. Tercatat sebanyak 419 saham mengalami penurunan harga, sementara 309 saham menguat dan 230 saham stagnan. Meski demikian, bobot saham-saham berkapitalisasi besar berhasil menahan tekanan dan membawa IHSG tetap berada di zona hijau.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh saham unggulan, bukan oleh pergerakan pasar yang merata.
Sempat Menguat Tajam, Lalu Tertekan di Sesi Pertama
Pada awal perdagangan, IHSG langsung melesat dan sempat menyentuh level tertingginya di 8.194,68 atau menguat 0,89 persen. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual meningkat dan menyeret IHSG ke zona merah.
Indeks sempat mencoba bangkit sekitar pukul 10.00 WIB, tetapi kembali melemah dan menutup sesi pertama dengan penurunan sekitar 0,53 persen.
Bangkit di Sesi Kedua, LQ45 Ambil Peran
Memasuki sesi kedua, IHSG perlahan berbalik arah. Penguatan dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45. Indeks LQ45 tercatat naik 1,1 persen dan menjadi penopang utama pergerakan pasar hingga penutupan.
Saham sektor perbankan tampil dominan dan menjadi motor penggerak kebangkitan indeks.
Saham Bank Kompak Menguat, BBTN Melonjak
Penguatan paling mencolok datang dari sektor perbankan. Bank Tabungan Negara (BBTN) mencatat lonjakan tertinggi dengan kenaikan 9,39 persen ke level 1.340.
Saham bank besar lainnya juga bergerak solid di zona hijau:
- Bank Mandiri (BMRI) naik 3,52%
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 1,84%
- Bank Negara Indonesia (BBNI) naik 0,87%
- Bank Central Asia (BBCA) naik 1,96%
- Bank Syariah Indonesia (BRIS) melonjak 8,11%
Seiring penguatan tersebut, BMRI menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan IHSG dengan sumbangan 15,14 poin indeks. BBCA menyusul dengan kontribusi 14,21 poin, sementara BBRI menyumbang 7,86 poin.
Dana Asing Mengalir ke Saham Perbankan
Penguatan saham bank tidak lepas dari derasnya aliran dana asing ke sektor tersebut. Saham-saham seperti BBTN, BMRI, BBRI, dan BBCA tercatat masuk dalam jajaran saham dengan nilai pembelian bersih asing terbesar pada perdagangan hari ini.
Meski demikian, secara total investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih. Sepanjang sesi pertama, asing membukukan transaksi beli senilai Rp3,5 triliun dan jual Rp4,6 triliun, sehingga tercatat net foreign sell sekitar Rp1,1 triliun.
Reformasi Pasar dan Bayang-bayang MSCI
Di tengah penguatan IHSG, pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan sentimen reformasi struktural. Perhatian investor tertuju pada langkah pemerintah dan regulator menyusul keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks untuk Indonesia pada periode Februari 2026.
Keputusan tersebut membuat otoritas pasar keuangan bergerak cepat melakukan pembenahan guna memulihkan kepercayaan investor global.
Tiga Langkah Kunci Pulihkan Kepercayaan Investor
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjawab kekhawatiran MSCI. Tiga poin utama yang ditawarkan antara lain:
- Peningkatan free float saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen
- Pelaporan kepemilikan saham mulai dari di atas 1 persen
- Perluasan klasifikasi pemegang saham, dari 9 tipe investor menjadi 27 tipe investor
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperbaiki transparansi, likuiditas, serta tata kelola pasar saham Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.





























