
Anggota juri IFA 2022, Iqbal Setyarso, mengatakan bahwa dari penentuan nominee, IFA sungguh-sungguh memilih para jurinya, mencerminkan kesungguhan menjaga kualitas penjurian yang pada gilirannya menjadi penentu bobot IFA itu sendiri.
“Publikpun akan menjadikan IFA tolok ukur preferensi, dan pihak yang lolos penilaian dewan juri akan memiliki trust sebagai lembaga filantropi yang dipercaya,” ujarnya.
Di tahap awal penjaringan nominator, panitia IFA menyaring data primer dan sekunder. Kemudian, peserta melalui tahap wawancara melalui daring.
Ada lima aspek yang dinilai yakni cara presentasi, permasalahan dan penyelesaian, pertumbuhan fundraising, inovasi yang dilakukan, dan dampak keberhasilan lembaga.
Menurut Direktur South East Asia Humanitarian (Seahum), Amin Sudarsono, yang juga menjadi salah satu juri, mengatakan bahwa lembaga yang melalui proses wawancara benar-benar serius mengikuti jalannya penjurian.
“Para peserta mengajukan juri bicara terbaik, tak jarang langsung top manajemen. Menunjukkan keseriusan nominasi IFA ini,” ujar Amin. *





























