JAKARTA – ZNEWS.id Maria Goreti Te’a (47), ibu kandung YBR (10), siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengungkapkan kondisi anaknya pada pagi hari sebelum ditemukan meninggal dunia dan diduga bunuh diri.
Maria menuturkan, pada pagi itu YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun, karena khawatir anaknya tertinggal pelajaran, ia tetap meminta YBR masuk sekolah dan mengantarnya menggunakan ojek.
“Dia bilang pusing dan tidak mau sekolah. Saya antar supaya tidak ketinggalan pelajaran,” kata Maria, Selasa (3/2/2026), dilansir kompas.com.
Kabar duka justru datang pada siang hari. Maria mengaku terkejut saat menerima informasi dari tetangga mengenai peristiwa yang menimpa anaknya.
“Saya kaget dengar kabar itu. Saya pikir dia masih pergi sekolah,” ujarnya.
YBR diketahui merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.
Sejak berusia sekitar satu tahun tujuh bulan, ia tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di sebuah pondok sederhana berdinding bambu.
Ayah YBR telah merantau ke Kalimantan sejak sekitar 11 hingga 12 tahun lalu dan tidak pernah kembali. Dalam keseharian, YBR membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar, serta mengandalkan hasil kebun seadanya untuk memenuhi kebutuhan makan.
Berdasarkan keterangan warga dan pantauan lapangan, keluarga YBR hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan kepala keluarga.
Kondisi tersebut menyebabkan pengasuhan anak terpisah, pendampingan emosional terbatas, serta akses terhadap pendidikan dan bantuan sosial yang minim.
Ironisnya, keluarga ini tercatat belum pernah menerima berbagai bantuan pemerintah, baik bantuan sosial, pendidikan, maupun program rumah layak huni.
Peristiwa ini menjadi perhatian pemerintah daerah dan memicu evaluasi terhadap sistem perlindungan anak serta penanganan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Ngada.



























