JAKARTA, ZNEWS.id – Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menegur jajaran Pemerintah Kabupaten Ngada karena dinilai lamban merespons kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu.
Melki mengaku malu karena hingga beberapa hari setelah kejadian belum ada perwakilan pemerintah daerah yang datang menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Teguran tersebut disampaikan Melki dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram resminya, @melkilakalena.official, pada Kamis, 5 Februari 2026. Dalam video itu, Melki terlihat memberi arahan kepada pejabat daerah dan meminta agar peristiwa tersebut tidak dianggap sepele.
“Tadi malam saya cek terakhir, belum ada Pemda Ngada datang mewakili pergi menyampaikan belasungkawa pada ini keluarga korban. Kan gila model begini! Enggak boleh begitu,” kata Melki dalam video tersebut.
Melki memerintahkan Pemerintah Kabupaten Ngada segera mengirim perwakilan resmi untuk menemui keluarga korban dan memastikan proses pemakaman dilakukan secara layak. Ia menilai tragedi ini menunjukkan kegagalan pemerintah dalam melindungi warganya yang paling rentan.
“Kita gagal sebagai pemerintah. Malu saya sebagai gubernur model begini,” ujarnya.
Korban berinisial YBR, siswa kelas IV sekolah dasar berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 WITA.
Bocah tersebut diduga nekat mengakhiri hidup karena putus asa tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah.
Melki juga menyoroti kinerja program bantuan sosial yang dinilai tidak berjalan optimal. Ia mempertanyakan efektivitas Program Keluarga Harapan dan berbagai anggaran sosial yang mengalir ke Nusa Tenggara Timur, namun tidak mampu mencegah tragedi tersebut.
Ia meminta perangkat sosial pemerintah kembali difungsikan hingga tingkat paling bawah agar warga miskin yang mengalami kesulitan bisa segera dibantu.
“Kalau ada yang miskin susah, kita urus. Uang ada, walaupun terbatas. Masa cuma beli buku tulis dan bolpoin saja tidak bisa tertangani,” kata Melki.
Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan jenazah korban ditemukan di kebun milik neneknya.
Polisi menemukan sejumlah barang bukti di lokasi kejadian, termasuk tali nilon, pakaian korban, serta sepucuk surat tulisan tangan yang ditujukan kepada ibu korban.
Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara ibunya merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anak.



























