Charpentie, seorang warga Prancis, dan Doudna, warga Amerika Serikat, menjadi perempuan keenam dan ketujuh yang berhasil meraih hadiah Nobel Kimia sejak penghargaan itu diberikan pada 1901. Marie Curie jadi perempuan pertama yang menerima hadiah Nobel Kimia pada 1911 dan Frances Arnold jadi perempuan kelima yang menerima penghargaan tersebut pada 2018.
“Harapannya, penghargaan ini akan mengirim pesan positif ke para perempuan muda, khususnya mereka yang ingin mewujudkan mimpi dan karirnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menunjukkan bahwa perempuan juga dapat meraih penghargaan Nobel. Namun yang lebih penting, hadiah ini juga menunjukkan bahwa perempuan yang berkarir di bidang ilmu pengetahuan, juga dapat memberi dampak lewat penelitian/bidang ilmu yang mereka geluti,” kata Charpentie, sebagaimana dikutip oleh akun Instagram resmi hadiah Nobel (@nobelprize_org), Rabu.
Sejalan dengan tradisi pemberian hadiah Nobel, Kimia jadi bidang ilmu ketiga yang diumumkan setelah fisika yang dimenangkan Roger Penrose, Reinhard Genzel dan Andrea Ghez pada Selasa (6/10) waktu setempat, dan kedokteran yang dimenangkan peneliti asal Amerika Serikat (AS) Harvey Alter dan Charles Rice serta ilmuwan Inggris Michael Houghto pada Senin (5/10) waktu setempat.
Hadiah Nobel digagas oleh seorang penemu dinamit dan pebisnis asal Swedia, Alfred Nobel, pada 1901. Sejak saat itu, ia dan Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia memberikan penghargaan untuk para ilmuwan, inovator, dan tokoh masyarakat yang berkontribusi untuk kemajuan ilmu pengetahuan serta perdamaian.
Upacara pemberian hadiah Nobel tahun ini tidak semeriah biasanya karena pandemi COVID-19. Banyak rangkaian acara yang dibatalkan dan digelar secara virtual. Tidak hanya itu, perhatian para ilmuwan saat ini terpusat pada upaya mencari vaksin dan obat COVID-19.
Editor: Dhany
Sumber: Antara





























