
ZNEWS.ID JAKARTA — Pesta musik tahunan Synchronize Festival 2019 digelar pada 4, 5, dan 6 Oktober di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti yang terdahulu, festival tersebut masih menawarkan banyak genre musik, mulai dari pop, RnB, rock, sampai ke dangdut, campursari, dan hardcore yang lebih spesifik.
Secara garis besar, Synchronize 2019 memiliki konsep berbeda. Tahun ini mereka mengajak pengunjung untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Dalam hal ini, panitia kembali menggandeng Dompet Dhuafa guna mendukung gerakan Green Movement Festival dengan Kampanye Sedekah Pohon.
“Ada kesamaan visi. Dompet Dhuafa kembali berkolaborasi dengan Dyandra Promosindo, selaku Charity Partner dalam acara Synchronize Fest 2019 ini. Bukan sekedar hadir pada pesta musik dan ajang kreatif, namun tetap peduli lingkungan,” ujar Akbar Saddam, selaku Tim Event Creative Dompet Dhuafa, di sela gelaran tersebut beberapa waktu lalu.
Kali kedua bersinergi dengan Dyandra Promosindo, Dompet Dhuafa berkesempatan melakukan aktivasi langsung di tengah masyarakat urban. Kali ini hadir dengan turut membuka booth donasi yang mengampanyekan Gerakan Sedekah Pohon.
“Tak hanya itu, Dompet Dhuafa juga menyiapkan mushala yang nyaman untuk para pengunjung Synchronize Fest 2019. Selain menikmati pertunjukan, para pengunjung yang hadir bisa beribadah dengan nyaman di Mushala yang kami sediakan,” lanjut Akbar.
Dalam pesta musik kali ini panitia membolehkan pengunjung membawa peralatan makan dan minum yang ramah lingkungan dengan sejumlah ketentuan.
Misalnya, untuk tempat minum atau yang biasa disebut tumbler, maksimal berkapasitas 1000 ml dan hanya diisi air mineral. Peralatan makan seperti sendok, garpu, dan sedotan diizinkan, namun tidak boleh membawa pisau. Untuk wadah makanan, sebaiknya tidak terbuat dari kaca atau plastik sekali pakai.
Dikutip dari laman CNNIndonesia.com, penyelenggara telah menyiapkan area khusus ibu menyusui dan anak berupa ruang privat dan ruangan bermain. Untuk pengunjung yang menggunakan kursi roda, ada area tersendiri, termasuk toilet prioritas bagi penyandang disabilitas, orang tua, ibu hamil, dan yang sedang cedera. Anak-anak yang tinggi badannya di bawah 100 cm disebut tak perlu membeli tiket masuk.
Sejumlah hal lain yang sebaiknya tidak dilupakan adalah membawa uang tunai serta perlengkapan makan dan minum sendiri. Pengunjung dianjurkan menyimpan jas hujan di dalam tas untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang tak menentu, serta disarankan mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman.
Meski diingatkan untuk membawa jas hujan, namun payung dilarang masuk lokasi. Demikian juga makanan dan minuman dari luar, hewan peliharan, obat-obatan terlarang, serta senjata api dan senjata tajam. Demi kenyamanan bersama, lense tele, monopod dan tripod dilarang, demikian juga selfie stick dan botol plastik, botol kaleng, dan tempat minum selain Tumbler.
Gerakan peduli lingkungan ini disebut David Karto selaku Festival Director sebagai penyesuaian tema yang diusung, yakni Memanusiakan Alam, Mengalamikan Manusia.
Ia mengungkapkan, Synchronize Fest menyumbang sampah sebanyak 1,7 ton sampai 2,3 ton dari gelaran tahun 2016 sampai 2018. Angka tersebut didapat dari akumulasi penyelenggaraan selama tiga hari.
“Ini pertama kali kami melakukan green movement. Kami berharap setidaknya bisa mengurangi produksi sampah [sampai] 30 persen,” kata David beberapa waktu lalu, seraya menegaskan ada titik air PAM di JIExpo Kemayoran yang layak minum. Pengunjung bebas mengambil air tersebut secara gratis.
Pihak penyelenggara mengaku telah menerapkan langkah peduli lingkungan itu di kalangan internal. Mereka memilih menyediakan konsumsi prasmanan di belakang panggung dan tidak memakai genset.

Ratusan penampil dijadwalkan mengisi enam panggung Synchronize Fest, sejak siang sampai malam. Para penampil tersebut datang dari generasi dan genre berbeda, mulai dari Humania, Didi Kempot, Club Eighties, sampai Reality Club, Jason Ranti, dan Ardhito Pramono.
Sementara untuk pengunjung yang ingin beristirahat, Synchronize Fest menyediakan area nonton film. Film-film yang akan diputar adalah Tarling is Darling, Aruna dan Lidahnya, Tiga Dara untuk hari pertama, lalu ada Nyanyian Akar Rumput, Kucumbu Tubuh Indahku, dan Darah Muda di hari kedua. Untuk hari terakhir, ada film dokumenter Superglad, 27 Steps of May, serta Gita Cinta Dari SMA. (dd/cnn)























