
Di sisi lain, Ustaz Erick menjelaskan terkait tugas seorang juru dakwah soal bagaimana mengemas permasalahan umat dengan cara terbaik.
Wakil Ketua Seni Budaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu memberikan contoh industri film yang memainkan peranan penting bagi kehidupan, serta mendorong umat agar mandiri secara ekonomi dengan saling memberi dukungan riil.
“Kita menginginkan kemandirian umat, tapi kalau belanja masih di toko ‘sebelah’. Enggak mau menabung di bank syariah, karena masih tercampur dengan (unsur-unsur) konvensional, mau sampai kapan? Cara berpikir kita epistemologis, sedangkan umat di luar Islam harus logis dan empiris agar mereka bisa terima, tugas dai untuk menjadikannya komprehensif,” kata Erick.
Selain itu, Ustaz Subki juga menjelaskan bahwa tidak ada perkataan yang paling baik kecuali seruan orang yang mengajak kepada Allah. Ia mengingatkan sejumlah pilihan metode dakwah yang bisa diterapkan oleh setiap dai, yakni dengan ketegasan dan kelembutan.
“Dengan semangat dakwah kepada manusia menuju Allah, maka seorang dai adalah seorang yang sesungguhnya harus terus meningkatkan ‘senjatanya’. Karena berada di jalan Allah, pasti akan mendapat pertolongan Allah,” tegasnys.
Ustaz AP, panggilan akrab Ustaz Ahmad Pranggono, menyebutkan bahwa sekolah dai bertujuan untuk menambah kebutuhan dakwah transformatif Dompet Dhuafa di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Para dai yang ditugaskan akan menyampaikan dakwah rahmatan lil ‘alamin sesuai dengan core values Dompet Dhuafa,” tuturnya. *

























