ZNEWS.ID SYDNEY – Selama satu minggu menjalankan tugas dakwah di Australia, aktivitas kami lebih banyak berpusat di komunitas muslim seperti di Bankstown, Lakemba, dan daerah-daerah lain yang kental dengan suasana Islami.
Karena itu, kami jarang sekali bertemu langsung dengan penduduk asli Australia atau orang-orang berdarah Eropa. Namun, kondisi itu berubah saat memasuki minggu kedua.
Pada minggu tersebut, Dompet Dhuafa memberikan tugas kepada kami untuk membuat video ceramah dengan latar tempat-tempat ikonik dari negara tempat kami berdakwah sebagai bagian dari program Dai Ambassador 2025.
Maka, kami—Ustaz M. Nur Khalim, Ustaz Abdul Wahid, dan saya, Ustaz Sholahudin—memutuskan untuk pergi ke salah satu simbol Australia yang terkenal, yaitu Sydney Opera House, sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Perjalanan ini bukan hanya sekadar jalan-jalan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat sisi lain dari Australia yang belum kami rasakan. Kami naik kereta dari Bankstown menuju Circular Quay.
Selama perjalanan, pemandangan berubah drastis. Dari daerah dengan toko-toko halal dan masjid, kami bergerak ke pusat kota yang menggambarkan wajah asli Australia: gedung-gedung tinggi, orang-orang berpakaian rapi, dan suasana khas Barat yang sangat terbuka.
Sesampainya di Circular Quay, suasananya semakin ramai dengan wisatawan dari berbagai negara yang sibuk berfoto berlatar Opera House dan Harbour Bridge. Di sisi lain, seniman jalanan memainkan musik khas Australia, termasuk suara Didgeridoo dari warga Aborigin.
Kami melangkah ke tangga Opera House yang megah dengan arsitektur cangkangnya yang khas. Saya teringat komentar Ustaz Sholahudin yang mengatakan bahwa tempat ini menjadi tujuan banyak orang dari seluruh dunia.
Ustaz Abdul Wahid tersenyum dan berkata, “Kita sudah lama di Australia, tapi baru sekarang benar-benar melihat tempat ini. Begitulah, terkadang kita sibuk dalam perjuangan dakwah hingga lupa menikmati keindahan dunia”.
Kami duduk sejenak, menikmati embusan angin laut sambil memandangi kapal feri yang hilir mudik. Lalu, saya teringat obrolan dengan Harbi, mahasiswa asal Singapura di Australia tentang bagaimana muslim di Australia harus berjuang menjaga identitasnya di tengah budaya Barat yang sangat terbuka.
Kami duduk kembali, merenungi perjalanan ini. Ustaz Sholahudin berkata, “Beginilah hidup di negeri minoritas. Di mana pun kita berada, kita harus membawa Islam dalam keseharian kita. Tak masalah jika kita berada di Lakemba atau Opera House, Islam tetaplah Islam”.
Di tengah keramaian, azan Asar mulai berkumandang dari aplikasi ponsel. Kami saling pandang, lalu mencari tempat untuk salat.
Saat itulah, seorang keluarga dari sepupu kami yang sedang mengambil master di University of Sydney memberi tahu kami lewat pesan WhatsApp bahwa di dekat sana ada musala kecil di dalam toko. Dengan rasa penasaran, kami mengikuti titik lokasi Google Maps yang dikirim pada kami.
Sesampainya di lokasi, kami kagum bahwa di tengah keramaian Sydney yang sibuk, masih ada tempat ibadah bagi kaum muslim. Musala itu sederhana, terletak di bagian belakang toko yang menjual barang-barang Timur Tengah.
Kami pun melaksanakan salat Asar di sana dengan penuh khusyuk. Setelah selesai, kami duduk sejenak dan merenung. Ustaz Sholahudin berkata, “Begitulah Allah menjaga agama-Nya. Di mana pun kita berada, pasti ada jalan untuk beribadah”.
Kami pun kembali ke Bankstown dengan hati yang penuh rasa syukur. Perjalanan ini membuka mata kami lebih luas bahwa Australia bukan hanya tentang komunitas muslim yang berkembang, tetapi juga tentang bagaimana kita, sebagai muslim, harus mampu tetap teguh dalam iman di tengah budaya yang berbeda.
Oleh: Dai Ambassador penugasan Australia, Ustaz M Nur Khalim


























