Irna Nur Wati (kiri) dan Nida Nabilah (kanan), fundriser konter penghimpunan ZISWAF Dompet Dhuafa di Pondok Indah Mall. (Foto: Dompet Dhuafa)

Uang-uang misterius seperti itu biasanya Irna dan Nida masukkan pada donasi kemanusiaan atau pembangunan-pembangunan fasilitas umum.

Pemudi domisili Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, itu juga bercerita, pernah suatu hari (bulan puasa), ada sepasang suami-istri. Sang istri menunaikan zakat mal untuk dirinya. Kemudian waktu sudah mau selesai, giliran sang suami nyeletuk, “Saya juga mau dong zakat, Rp15 juta aja,”.

Menurut Irna, paling banyak yang terkumpul di PIM ini adalah zakat penghasilan. Namun, saat Ramadan, yang paling banyak adalah zakat mal.

Dari menjadi seorang fundraiser sejak 2018, membuatnya banyak belajar tentang dunia filantropi Islam dibanding dengan pelajaran-pelajaran yang didapatnya semasih di bangku sekolah maupun kuliah.

“Bertemu donatur itu menjadi pengalaman yang berharga banget buat saya. Berbagai macam tipe donatur saya temui di sini. Pertanyaan-pertanyaan yang kontemporer pun juga sering ditanyakan oleh donatur. Di situ, saya juga belajar lebih banyak lagi tentang zakat dan filantropi Islam. Masalah fikih itu kan sangat luas sekali. Kemudian juga setiap orang juga punya pilihan pendapatnya masing-masing. Jadi, di situ yang memantik saya untuk terus menambah wawasan,” jelas lulusan UIN Jakarta tersebut.

Berbeda dengan rekannya, Nida Nabilah yang masih berstatus mahasiswa akhir di fakultas psikologi Mercubuana. Ia tinggal di Kebon Jeruk, lebih jauh dari PIM dibandingkan dengan Irna di Ciputat.

Untuk menjalankan tugasnya sebagai amil zakat di PIM, setiap hari ia naik Transjakarta dari rumahnya. Meski bukan seorang berlatar belakang kampus Islam, namun sebagai seorang muslim, ia telah sedikit/banyak mengenal tentang ZISWAF.

LEAVE A REPLY