
Oleh: Achmad Yakub (Dewan Pembina INAgri) dan Destika Cahyana (Peneliti BRIN)
ZNEWS.ID JAKARTA – Apakah benar tidak ada generasi milenial yang tertarik pada pertanian? Pertanyaan itu menjadi relevan di saat viral pernyataan seorang anggota dewan yang menyatakan tidak ada generasi yang lahir pada rentang 1981-1996 alias kaum milenial yang tertarik pada sektor pertanian.
Bila pernyataan itu dianggap sebagai keprihatinan umum yang retorik dengan penggunaan gaya bahasa, maka pernyataan itu benar adanya.
Namun, bila pernyataan itu sebagai fakta, maka pernyataan itu kurang tepat. Karena, baru-baru ini 500 petani milenial baru saja menggelar jambore nasional di Ogan Komering Ulu Timur, Sumatra Selatan.
Demikian pula 500 petani milenial baru saja berkumpul pada saresehan di Ragunan, Jakarta Selatan. Secara kasar, saja ada 1.000 petani milenial di Indonesia.
Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) juga sudah berkali-kali melibatkan petani milenial dalam acaranya. Demikian pula beberapa organisasi petani, seperti Serikat Petani Indonesia dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, mempunyai sayap organisasi pemuda maupun mahasiswa tani.
Berdasarkan perspektif tersebut, pernyataan itu tak perlu direspons berlebihan, tetapi justru harus dibaca sebagai peluang untuk mengkaji berapa jumlah generasi milenial yang dibutuhkan untuk menopang kedaulatan pangan 270 juta rakyat Indonesia?
Berapa persen jumlah tersebut dari populasi generasi milenial saat ini yang merupakan bonus demografi bangsa? Di kabupaten atau provinsi mana saja sebaran petani milenial tersebut secara spasial?
Semua pihak dapat menilai lebih objektif berapa kekurangan generasi milenial yang dibutuhkan untuk menopang kedaulatan bangsa.
Itu agar pemerintah dapat memberikan stimulan yang tepat untuk menarik generasi milenial pada sektor pertanian. Pada konteks yang lebih spesifik, di kabupaten atau provinsi mana saja terjadi kekurangan generasi milenial, sehingga pemerintah daerah setempat dapat segera memberi stimulan.


























