Ilustrasi Belajar dari Maestro. (Foto: Pixabay/Free-Photos)

Pak Daniel bukan hanya seorang business leader yang sukses, tapi juga seorang trainer yang andal. Kemampuannya menggali kebutuhan klien dan meramunya menjadi desain pelatihan sangat bagus. Kemampuan public speaking-nya amazing.

Di usia yang tak lagi muda, dia bisa tetap energik meski mengajar sendirian di kelas pelatihan 3 hari berturut-turut dari jam 8 pagi sampai 9 malam. Dan, materinya tetap menarik. Tak ada satu pun peserta yang merasa bosan.

Saya memerhatikan caranya menggali kebutuhan klien dan meramunya menjadi materi pelatihan. Saya perhatikan caranya mengajar, intonasinya, pilihan katanya, bahasa tubuhnya, caranya menjawab pertanyaan dan menangani peserta yang sulit. Lalu, saya berlatih, melakukan imitasi, dan meminta feedback.

Belajar dengan mentor akan jauh lebih cepat dibandingkan belajar sendiri. Tanpa mentor, kita tak tahu apakah yang kita lakukan sudah benar. Kita tak mendapat feedback apakah cara kerja kita sudah efektif. Saya meyakini rumus ini: belajar = bekerja + feedback.

Saat memilih mentor, pilihlah mentor terbaik. Pilihlah seorang maestro. Belajarlah langsung dari yang terbaik. Kalau ingin belajar menjadi pengusaha, belajarlah langsung dari pengusaha yang sukses. Jika ingin menjadi leader, pilihlah seorang leader sukses sebagai mentornya.

Jika organisasi Anda ingin memiliki tim yang kompeten, tugaskan para leader untuk menjadi mentor anak-anak mudanya. Saat memimpin tim Human Capital di Dompet Dhuafa, saya menemukan banyak leader yang cakap.

Mereka kompeten, punya track record prestasi yang bagus, punya integritas yang tinggi, dan jadi panutan dalam value organisasi. Saya merekrut anak-anak muda terbaik dari kampus dan memasukkannya dalam program management trainee berdurasi satu tahun.

Dan, leader-leader cakap ini saya minta menjadi mentornya. Dalam lima tahun, anak-anak muda ini telah siap menjadi leader-leader baru.

LEAVE A REPLY