
Ibu enam anak itu mengatakan bahwa dia memasang konvensi PBB di rumahnya untuk anak-anaknya. Tetapi, terkejut mengetahui negaranya sendiri, Amerika Serikat, belum meratifikasinya.
“Hal itu membuat saya marah dan membuat saya mulai bertanya-tanya apa maksudnya? Jadi, untuk setiap negara, ide apa ini, Anda memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, tapi mengapa begitu banyak anak yang putus sekolah? Mengapa? Apakah gadis-gadis di Afghanistan dirugikan jika mereka sekolah?” katanya.
Buku ini membahas identitas, keadilan, pendidikan dan perlindungan dari bahaya dan isu-isu lainnya. Buku ini memberi panduan untuk menjadi seorang aktivis, berada dalam situasi aman serta daftar istilah dan organisasi.
“Lewat buku ini, kau harus mencari jalan sendiri ke depannya, karena kami sangat peduli terhadap keamanan anak-anak. Kami tidak mau anak-anak hanya berlari dan meneriakkan hak-hak mereka dan membuat mereka dalam marabahaya,” katanya.
Buku ini dibumbui dengan contoh suara anak-anak muda berpengaruh dari seluruh dunia, termasuk pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai, aktivis iklim Greta Thunberg dan jurnalis Palestina berusia 15 tahun Janna Jihad.
“Saya ingin menunjukkan kepada dunia apa yang dihadapi anak-anak Palestina sehari-hari,” kata Jihad yang tinggal di desa Nabi Salih, di Tepi Barat yang diduduki Israel, kepada Jolie dan aktivis muda lainnya melalui panggilan video.
“Sangat penting untuk bersatu dengan anak muda lain, itulah caranya kita bisa membuat perubahan,” imbuh CHristina Adane (17) dari London yang mengampanyekan sistem makanan sehat.


























