
Oleh: Dian Fitriyani (Penerima Manfaat Bakti Nusa Angkatan 9 Semarang)
ZNEWS.ID JAKARTA – Aktivis merupakan sebutan yang biasanya untuk seseorang yang memperjuangkan kepentingan tertentu, terlepas kepentingan itu baik atau buruk tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) aktivis merupakan orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya.
Semua orang bisa menjadi seorang aktivis. Hanya saja kembali kepada hakikat kita hidup sebagai manusia itu untuk apa? Katakanlah apa yang dilakukan seorang aktivis adalah perjuangan (jihad) untuk melindungi orang yang tertindas dan lemah, atau untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Maka, sejatinya menjadi aktivis adalah mulia dan betujuan baik.
Namun, akhir-akhir ini kita sering melihat dan mendengar banyak sekali aktivis yang memperjuangkan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, bahkan konstitusi negara sekalipun. Demokrasi yang memberikan ruang berserikat, berkumpul, dan mengeluakan sering disalah artikan untuk melakukan hal-hal yang di luar batas dengan dalih HAM (Hak Asasi Manusia).
Katakanlah seperti para aktivis gender yang justru ingin membenarkan LGBT atau masuk ke dalam ormas yang dilarang pemerintah padahal sudah jelas tujuannya adalah ingin mengganti ideologi negara.
Setiap manusia punya kepercayaan, tergantung kepercayaan kepada yang benar atau kepada yang salah. Ketika manusia diberikan amanah untuk menjadi wali Tuhan di bumi, maka sudah seharusnya dia menjadi tuhan-tuhan kecil di muka bumi untuk memperjuangkan kebenaran, bukan kebebasan.
Maka, sejatinya manusia harus menyelaraskan tujuan kehidupannya dengan maksud dan rencana Tuhan menciptakan dirinya. Pada akhirnya, ia akan hidup sesuai degan design Tuhan. Bisa kita sepakati bahwa Tuhan selalu menuntun kita kepada kebenaran untuk mencapai sebuah kebaikan.
Semuanya berawal dari kepercayaan, kepercayaan yang salah akan membuat peradaban yang rusak (tidak maju). Contohnya adalah Pompen yang memiliki kepercayaan bahwa Sodom adalah perbuatan yang diperbolehkan.





























