
Oleh: Muhammad Yahya Ayyasy Alhaafizh (PM Bakti Nusa 8 Solo, True Health Consultant)
ZNEWS.ID JAKARTA – Umumnya, seorang siswa SD dituntut untuk belajar sungguh-sungguh agar masuk SMP favorit, kemudian SMA favorit, lalu Perguruan Tinggi Favorit, dan muara akhirnya adalah memiliki pekerjaan. Selama proses pendidikan berlangsung, umumnya setiap siswa dituntut untuk menjadi manusia yang juara di setiap mata pelajaran.
Bila terdapat nilai yang di bawah standar, tidak jarang sang siswa mendapat omelan guru, orang tua, hingga keluarga besar. Padahal, setiap anak dilahirkan dengan kemampuan dan keunikan yang berbeda-beda.
Namun, sistem pendidikan yang telah berjalan sejak lama, tidak begitu menitikberatkan pada kelebihan dan potensi anak. Semua dipatok sama. Terlebih lagi pada nilai matematika.
Dari fenomena tersebut, tidak sedikit siswa yang stres karena beban akademik. Namun, tidak sedikit pula yang bertahan dan mampu melalui ujian di setiap jenjang.
Ritme “manusia juara” rupanya tidak berhenti sampai bangku SMA. Kehidupan perkuliahan tidak jauh berbeda. Bahkan dalam keberjalanannya nilai-nilai keluar pada laporan IPK tidak sedikit yang manipulasi.
Berbagai cara untuk mendapat nilai tinggi dilakukan, termasuk mencontek. Heuh. Upaya demikian ditempuh dengan dalih agar IPK sang mahasiswa bagus dan medapatkan pekerjaan yang bagus. Akan tetapi, apakah benar demikian?
Ketika seseorang telah menyelesaikan masa akademik S1, ternyata banyak lulusan yang bingung menentukan arah hidupnya. Ada yang berIPK tinggi tapi kemampuan di lapangan di bawah rata-rata, alias tidak sesuai dengan ekspektasi perusahaan saat melakukan perekrutan.




























