
Oleh: dr. Dito Anurogo MSc (Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, studi S3 di International PhD Program for Cell Therapy and Regeneration Medicine (IPCTRM) College of Medicine Taipei Medical University (TMU) Taiwan, CEO-founder School of Life Institute)
ZNEWS.ID JAKARTA – Merkuri telah digunakan sekitar 3.000 tahun dalam sejarah manusia. Logam ini bermanfaat dalam proses pembuatan barometer, manometer, termometer, kosmetik pemutih, dan amalgam gigi.
Keracunan merkuri di tempat kerja sering dialami para pekerja pabrik pembuatan topi di Eropa pada abad ke-19. Di Korea, korban keracunan merkuri akibat pajanan konsentrasi tinggi di tempat kerja terlihat di pabrik termometer, pabrik lampu neon, dan industri pemrosesan ulang limbah dari tahun 1980-an hingga awal tahun 2000-an (Ye BJ dkk, 2016).
Di Indonesia, laporan inventarisasi merkuri mengidentifikasi bahwa hampir sebanyak 60 persen dari emisi merkuri atau sekitar 307.125 kg Hg per tahun dilepas ke udara berasal dari sektor pertambangan emas skala kecil (Mercury Country Situation Report Indonesia, 2018).
Studi lain mengungkapkan bahwa 18-23 persen para pekerja tambang di Indonesia menderita intoksikasi uap merkuri logam kronis atau chronic metallic mercury vapour intoxication (Steckling dkk, 2017).
Bentuk dan Karakteristik
Merkuri dijumpai dalam berbagai bentuk. Misalnya, logam, persenyawaan anorganik, dan organik. Beragam bentuk itu berefek pada keberanekaragaman pola dalam hal sirkulasi ekosistem, akumulasi, paparan pada tubuh manusia, efek biologis, dan toksisitas.
Merkuri logam (metallic mercury) umumnya diserap melalui saluran pernapasan. Bila tidak sengaja tertelan, merkuri tidak berbahaya karena membentuk globul sehingga tidak diserap oleh sistem pencernaan manusia.
Selain itu, karena karakteristiknya yang larut dalam lemak, merkuri dengan mudah melewati penghalang sel alveoli di paru-paru dan teroksidasi menjadi merkuri anorganik (inorganic mercury), lalu bergabung dengan protein dan memberikan efek kumulatif. Merkuri diserap oleh tubuh lalu bersirkulasi ke ginjal dan otak. Waktu paruh merkuri di tubuh mencapai 70 hari.

























