Jakarta, ZNews.id – Pergerakan nilai tukar rupiah kerap menjadi perhatian publik, terutama ketika nilainya melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bagi masyarakat awam, penurunan rupiah sering kali terasa langsung dampaknya. Mulai dari harga barang impor hingga biaya hidup. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan nilai tukar rupiah jatuh?
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan, pelemahan rupiah tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ada kombinasi tekanan global dan sentimen dari dalam negeri yang memengaruhi persepsi pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Tekanan Global, Dolar AS Menguat
Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Ketidakpastian pasar keuangan global—mulai dari tensi geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed)—mendorong investor global memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Kondisi ini menyebabkan arus modal keluar dari negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia, menuju negara maju seperti AS. Akibatnya, permintaan dolar meningkat, sementara mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Perry menegaskan situasi ini tidak hanya dialami oleh rupiah. Banyak mata uang negara berkembang lain juga menghadapi tekanan serupa akibat perubahan sentimen global.
Persepsi Pasar Jadi Faktor Kunci dari Dalam Negeri
Selain faktor global, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen domestik, khususnya persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan kebijakan institusional.
Salah satu isu yang disorot pasar adalah proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Dari tiga nama calon yang diusulkan, salah satunya adalah Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto.
“(Faktor domestik pelemahan rupiah) karena persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/2026).
Menurut Perry, persepsi negatif tersebut ikut memperdalam tekanan terhadap rupiah, meski secara fundamental kebijakan moneter tetap berjalan normal.
BI Tegaskan Independensi dan Tata Kelola
Menanggapi kekhawatiran pasar, Perry menegaskan proses pencalonan Deputi Gubernur BI telah berjalan sesuai dengan ketentuan undang-undang dan tidak mengganggu independensi bank sentral.
“Proses pengambilan kebijakan di BI tetap kami pastikan dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat,” tegasnya.
Ia juga menambahkan BI tetap bersinergi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Arus Modal Keluar dan Kebutuhan Valuta Asing
Faktor lain yang turut menekan rupiah adalah derasnya aliran modal asing keluar. Hingga 19 Januari 2026, nilai arus modal keluar tercatat mencapai sekitar 1,6 miliar USD.
Selain itu, kebutuhan valuta asing dari sejumlah korporasi besar juga meningkat, termasuk untuk keperluan impor energi dan pembayaran utang.
“Aliran modal asing keluar, juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun Danantara,” ungkap Perry.
Kombinasi arus modal keluar dan tingginya permintaan dolar dari dalam negeri membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar.
Fundamental Ekonomi Masih Jadi Penopang
Meski demikian, Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Inflasi masih terkendali, imbal hasil aset domestik dinilai menarik, dan prospek pertumbuhan ekonomi dinilai membaik.
“Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat didukung oleh kondisi fundamental kita yang baik,” kata Perry.





























